Surat Al 'Araf
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ
1.
الۤمّۤصۤ ۚ
Alif lām mīm ṣād.
Alif Lām Mīm Ṣād.
2.
كِتٰبٌ اُنْزِلَ اِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِيْ صَدْرِكَ حَرَجٌ
مِّنْهُ لِتُنْذِرَ بِهٖ وَذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Kitābun unzila ilaika falā yakun fī ṣadrika
ḥarajum minhu litunżira bihī wa żikrā lil-mu'minīn(a).
(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu
(Nabi Muhammad), maka janganlah engkau sesak dada karenanya supaya dengan
(kitab itu) engkau memberi peringatan, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang
yang beriman.
3.
اِتَّبِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلَا
تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ
Ittabi‘ū mā unzila ilaikum mir rabbikum wa lā
tattabi‘ū min dūnihī auliyā'(a), qalīlam mā tażakkarūn(a).
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu dan janganlah kamu ikuti pelindung selain Dia. Sedikit sekali kamu
mengambil pelajaran.
4.
وَكَمْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا فَجَاۤءَهَا بَأْسُنَا
بَيَاتًا اَوْ هُمْ قَاۤىِٕلُوْنَ
Wa kam min qaryatin ahlaknāhā fa jā'ahā
ba'sunā bayātan au hum qā'ilūn(a).
Betapa banyak negeri yang telah Kami
binasakan. Siksaan Kami datang (menimpa penduduknya) pada malam hari atau pada
saat mereka beristirahat pada siang hari.
5.
فَمَا كَانَ دَعْوٰىهُمْ اِذْ جَاۤءَهُمْ بَأْسُنَآ اِلَّآ اَنْ
قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
Famā kāna da‘wāhum iż jā'ahum ba'sunā illā an
qālū innā kunnā ẓālimīn(a).
Maka, ketika siksaan Kami datang menimpa
mereka, keluhan mereka tidak lain hanyalah ucapan “Sesungguhnya kami adalah
orang-orang zalim.”
6.
فَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِيْنَ اُرْسِلَ اِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ
الْمُرْسَلِيْنَۙ
Fa lanas'alannal-lażīna ursila ilaihim wa
lanas'alannal-mursalīn(a).
Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka
telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul.
7.
فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَّمَا كُنَّا غَاۤىِٕبِيْنَ
Fa lanaquṣṣanna ‘alaihim bi‘ilmiw wa mā kunnā
gā'ibīn(a).
Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu)
kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh
dari mereka).
8.
وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْحَقُّۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ
مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Wal-waznu yauma'iżinil-ḥaqq(u), faman ṡaqulat
mawāzīnuhū fa ulā'ika humul-mufliḥūn(a).
Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran)
kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang
beruntung.
9.
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا
اَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَظْلِمُوْنَ
Wa man khaffat mawāzīnuhū fa ulā'ikal-lażīna
khasirū anfusahum bimā kānū bi'āyātinā yaẓlimūn(a).
Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya,
mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami.
10.
وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا
مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ࣖ
Wa laqad makkannākum fil-arḍi wa ja‘alnā lakum
fīhā ma‘āyisy(a), qalīlam mā tasykurūn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah menempatkan
kamu sekalian di bumi dan Kami sediakan di sana (bumi) penghidupan untukmu.
(Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur.
11.
وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا
لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ لَمْ
يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ
Wa laqad khalaqnākum ṡumma ṣawwarnākum ṡumma
qulnā lil-malā'ikatisjudū li'ādama fa sajadū illā iblīs(a), lam yakum
minas-sājidīn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan
kamu (Adam), kemudian Kami membentuk (tubuh)-mu. Lalu, Kami katakan kepada para
malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam.” Mereka pun sujud, tetapi Iblis
(enggan). Ia (Iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud.
12.
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠
خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
Qāla mā mana‘aka allā tasjuda iż amartuk(a),
qāla ana khairum minh(u), khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahū min ṭīn(in).
Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang
menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis)
menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
13.
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ
فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ
Qāla fahbiṭ minhā famā yakūnu laka an
tatakabbara fīhā fakhruj innaka minaṣ-ṣāgirīn(a).
Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu darinya
(surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah!
Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.”
14.
قَالَ اَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
Qāla anẓirnī ilā yaumi yub‘aṡūn(a).
Ia (Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan
waktu sampai hari mereka dibangkitkan.”
15.
قَالَ اِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ
Qāla innaka minal-munẓarīn(a).
Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya kamu
termasuk mereka yang diberi penangguhan waktu.”
16.
قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ
الْمُسْتَقِيْمَۙ
Qāla fabimā agwaitanī la'aq‘udanna lahum
ṣirāṭakal-mustaqīm(a).
Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah
menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang
lurus.
17.
ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ
خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ
اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
Ṡumma la'ātiyannahum mim baini aidīhim wa min
khalfihim wa ‘an aimānihim wa ‘an syamā'ilihim, wa lā tajidu akṡarahum
syākirīn(a).
Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka
dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan
mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
18.
قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۗ لَمَنْ تَبِعَكَ
مِنْهُمْ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ اَجْمَعِيْنَ
Qālakhruj minhā maż'ūmam madḥūrā(n), laman
tabi‘aka minhum la'amla'anna jahannama minkum ajma‘īn(a).
Dia (Allah) berfirman, “Keluarlah kamu darinya
(surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sungguh, siapa pun di antara mereka
yang mengikutimu pasti akan Aku isi (neraka) Jahanam dengan kamu semua.”
19.
وَيٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ
حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ
الظّٰلِمِيْنَ
Wa yā ādamuskun anta wa zaujukal-jannata fa
kulā min ḥaiṡu syi'tumā wa lā taqrabā hāżihisy-syajarata fa takūnā
minaẓ-ẓālimīn(a).
(Allah berfirman,) “Wahai Adam, tinggallah
engkau dan istrimu di surga (ini). Lalu, makanlah apa saja yang kamu berdua
sukai dan janganlah kamu berdua mendekati pohon yang satu ini sehingga kamu
berdua termasuk orang-orang yang zalim.”
20.
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ
عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ
الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ
Fa waswasa lahumasy-syaiṭānu liyubdiya lahumā
mā wūriya ‘anhumā min sau'ātihimā wa qāla mā nahākumā rabbukumā ‘an
hāżihisy-syajarati illā an takūnā malakaini au takūnā minal-khālidīn(a).
Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada
keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat
keduanya. Ia (setan) berkata, “Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk
mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi
malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).”
21.
وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ
Wa qāsamahumā innī lakumā laminan-nāṣiḥīn(a).
Ia (setan) bersumpah kepada keduanya,
“Sesungguhnya aku ini bagi kamu berdua benar-benar termasuk para pemberi
nasihat.”
22.
فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُوْرٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ
لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ
وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ
وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Fa dallāhumā bigurūr(in), falammā
żāqasy-syajarata badat lahumā sau'ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw
waraqil-jannah(ti), wa nādāhumā rabbuhumā alam anhakumā ‘an tilkumasy-syajarati
wa aqul lakumā innasy-syaiṭāna lakumā ‘aduwwum mubīn(un).
Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu
daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada
keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di)
surga. Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua
dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh
yang nyata bagi kamu berdua?”
23.
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Qālā rabbanā ẓalamnā anfusanā wa illam tagfir
lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn(a).
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah
menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak
merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
24.
قَالَ اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚوَلَكُمْ فِى
الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ
Qālahbiṭū ba‘ḍukum liba‘ḍin ‘aduww(un), wa
lakum fil-arḍi mustaqarruw wa matā‘un ilā ḥīn(in).
Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu!
Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal
dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditentukan.”
25.
قَالَ فِيْهَا تَحْيَوْنَ وَفِيْهَا تَمُوْتُوْنَ وَمِنْهَا
تُخْرَجُوْنَ ࣖ
Qāla fīhā taḥyauna wa fīhā tamūtūna wa minhā
tukhrajūn(a).
Dia (Allah) berfirman, “Di sana kamu hidup, di
sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dikeluarkan (dibangkitkan).”
26.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ
سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ
اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
Yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay
yuwārī sau'ātikum wa rīsyā(n), wa libāsut-taqwā żālika khair(un), żālika min
āyātillāhi la‘allahum yażżakkarūn(a).
Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan
pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling
baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar
mereka selalu ingat.
27.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ
اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا
سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا
تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا
يُؤْمِنُوْنَ
Yā banī ādama lā yaftinannakumusy-syaiṭānu
kamā akhraja abawaikum minal-jannati yanzi‘u ‘anhumā libāsahumā liyuriyahumā
sau'ātihimā, innahū yarākum huwa wa qabīluhū min ḥaiṡu lā taraunahum, innā
ja‘alnasy-syayāṭīna auliyā'a lil-lażīna lā yu'minūn(a).
Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali
kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu
dari surga dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada
keduanya aurat mereka berdua. Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya
melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka.
Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu (sebagai) penolong bagi
orang-orang yang tidak beriman.
28.
وَاِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً قَالُوْا وَجَدْنَا عَلَيْهَآ
اٰبَاۤءَنَا وَاللّٰهُ اَمَرَنَا بِهَاۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَأْمُرُ
بِالْفَحْشَاۤءِۗ اَتَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Wa iżā fa‘alū fāḥisyatan qālū wajadnā ‘alaihā
ābā'anā wallāhu amaranā bihā, qul innallāha lā ya'muru bil-faḥsyā'(i),
ataqūlūna ‘alallāhi mā lā ta‘lamūn(a).
Apabila mereka melakukan perbuatan keji,
mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian dan
Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya
Allah tidak memerintahkan kekejian. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah apa
yang tidak kamu ketahui?”
29.
قُلْ اَمَرَ رَبِّيْ بِالْقِسْطِۗ وَاَقِيْمُوْا وُجُوْهَكُمْ
عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۗ كَمَا
بَدَاَكُمْ تَعُوْدُوْنَۗ
Qul amara rabbī bil-qisṭ(i), wa aqīmū
wujūhakum ‘inda kulli masjidiw wad‘ūhu mukhliṣīna lahud-dīn(a), kamā bada'akum
ta‘ūdūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku
memerintahkan aku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) di setiap
masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kamu
akan kembali kepada-Nya sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan.”
30.
فَرِيْقًا هَدٰى وَفَرِيْقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلٰلَةُ
ۗاِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ
وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
Farīqan hadā wa farīqan ḥaqqa
‘alaihimuḍ-ḍalālah(tu), innahumuttakhażusy-syayāṭīna auliyā'a min dūnillāhi wa
yaḥsabūna annahum muhtadūn(a).
Sekelompok (manusia) telah diberi-Nya petunjuk
dan sekelompok (lainnya) telah pasti kesesatan atas mereka. Sesungguhnya mereka
menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Allah. Mereka mengira bahwa
mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
31.
۞
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا
وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
Yā banī ādama khużū zīnatakum ‘inda kulli masjidiw
wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū, innahū lā yuḥibbul-musrifīn(a).
Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang
indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah
berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.
32.
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ
لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى
الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ
الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Qul man ḥarrama zīnatallāhil-latī akhraja
li‘ibādihī waṭ-ṭayyibāti minar-rizq(i), qul hiya lil-lażīna āmanū
fil-ḥayātid-dun-yā khāliṣatay yaumal-qiyāmah(ti), każālika nufaṣṣilul-āyāti
liqaumiy ya‘lamūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang
mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk
hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu adalah untuk
orang-orang yang beriman (dan juga tidak beriman) dalam kehidupan dunia,
(tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari
Kiamat.’” Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada
kaum yang mengetahui.
33.
قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا
بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ
مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Qul innamā ḥarrama rabbiyal-fawāḥisya mā
ẓahara minhā wa mā baṭana wal-iṡma wal-bagya bigairil-ḥaqqi wa an tusyrikū
billāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānaw wa an taqūlū ‘alallāhi mā lā ta‘lamūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya
Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang
tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang
benar. (Dia juga mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang
Allah tidak menurunkan bukti pembenaran untuk itu dan (mengharamkan) kamu
mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
34.
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا
يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Wa likulli ummatin ajal(un), fa iżā jā'a
ajaluhum lā yasta'khirūna sā‘ataw wa lā yastaqdimūn(a).
Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika
ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat
(pula) meminta percepatan.
35.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ
يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِيْۙ فَمَنِ اتَّقٰى وَاَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Yā banī ādama immā ya'tiyannakum rusulum
minkum yaquṣṣūna ‘alaikum āyātī, famanittaqā wa aṣlaḥa falā khaufun ‘alaihim wa
lā hum yaḥzanūn(a).
Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu
rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku,
siapa pun yang bertakwa dan melakukan perbaikan, tidak ada rasa takut menimpa
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih.
36.
وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَآ
اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Wal-lażīna każżabū bi'āyātinā wastakbarū ‘anhā
ulā'ika aṣḥābun-nār(i), hum fīhā khālidūn(a).
Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal
di dalamnya.
37.
فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ
كَذَّبَ بِاٰيٰتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يَنَالُهُمْ نَصِيْبُهُمْ مِّنَ الْكِتٰبِۗ
حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْۙ قَالُوْٓا اَيْنَ مَا
كُنْتُمْ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗقَالُوْا ضَلُّوْا عَنَّا وَشَهِدُوْا
عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا كٰفِرِيْنَ
Faman aẓlamu mimmaniftarā ‘alallāhi każiban au
każżaba bi'āyātih(ī), ulā'ika yanāluhum naṣībuhum minal-kitāb(i), ḥattā iżā
jā'athum rusulunā yatawaffaunahum, qālū aina mā kuntum tad‘ūna min dūnillāh(i),
qālū ḍallū ‘annā wa syahidū ‘alā anfusihim annahum kānū kāfirīn(a).
Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya?
Mereka itu akan memperoleh bagian (yang telah ditentukan) dari ketetapan Allah
(di dunia) sehingga apabila datang kepada mereka para utusan (malaikat) Kami
untuk mencabut nyawanya, mereka (para malaikat) berkata, “Manakah sembahan yang
biasa kamu sembah selain Allah?” Mereka (orang-orang musyrik) menjawab,
“Semuanya telah lenyap dari kami.” Mereka memberikan kesaksian terhadap diri
mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir.
38.
قَالَ ادْخُلُوْا فِيْٓ اُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِّنَ
الْجِنِّ وَالْاِنْسِ فِى النَّارِۙ كُلَّمَا دَخَلَتْ اُمَّةٌ لَّعَنَتْ
اُخْتَهَا ۗحَتّٰٓى اِذَا ادَّارَكُوْا فِيْهَا جَمِيْعًا ۙقَالَتْ اُخْرٰىهُمْ
لِاُوْلٰىهُمْ رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ اَضَلُّوْنَا فَاٰتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا
مِّنَ النَّارِ ەۗ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَعْلَمُوْنَ
Qāladkhulū fī umamin qad khalat min qablikum
minal-jinni wal-insi fin-nār(i), kullamā dakhalat ummatul la‘anat ukhtahā,
ḥattā iżaddārakū fīhā jamī‘ā(n), qālat ukhrāhum li'ūlāhum rabbanā hā'ulā'i
aḍallūnā fa ātihim ‘ażāban ḍi‘fam minan-nār(i), qāla likullin ḍi‘fuw wa lākil
lā ta‘lamūn(a).
Allah berfirman, “Masuklah kamu ke dalam api
neraka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum kamu dari (golongan) jin
dan manusia.” Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga
apabila mereka telah masuk semuanya, berkatalah orang yang (masuk) belakangan
(kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah
menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada
mereka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat
ganda, tetapi kamu tidak mengetahui.”
39.
وَقَالَتْ اُوْلٰىهُمْ لِاُخْرٰىهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا
مِنْ فَضْلٍ فَذُوْقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُوْنَ ࣖ
Wa qālat ūlāhum li'ukhrāhum famā kāna lakum
‘alainā min faḍlin fa żūqul-‘ażāba bimā kuntum taksibūn(a).
Orang yang (masuk) terlebih dahulu berkata
kepada yang (masuk) belakangan, “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun
atas kami. Maka, rasakanlah azab itu karena perbuatan yang telah kamu lakukan.”
40.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَا
لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ اَبْوَابُ السَّمَاۤءِ وَلَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتّٰى
يَلِجَ الْجَمَلُ فِيْ سَمِّ الْخِيَاطِ ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُجْرِمِيْنَ
Innal-lażīna każżabū bi'āyātinā wastakbarū
‘anhā lā tufattaḥu lahum abwābus-samā'i wa lā yadkhulūnal-jannata ḥattā
yalijal-jamalu fī sammil-khiyāṭ(i), wa każālika najzil-mujrimīn(a).
Sesungguhnya (bagi) orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan
dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga
sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat durhaka.
41.
لَهُمْ مِّنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَّمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍۗ
وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ
Lahum min jahannama mihāduw wa min fauqihim
gawāsy(in), wa każālika najziẓ-ẓālimīn(a).
Bagi mereka (disediakan) alas tidur dari (api
neraka) Jahanam dan di atas mereka ada selimut (dari api neraka). Demikianlah
Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.
42.
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَا نُكَلِّفُ
نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِۚ هُمْ فِيْهَا
خٰلِدُوْنَ
Wal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lā
nukallifu nafsan illā wus‘ahā, ulā'ika aṣḥābul-jannah(ti), hum fīhā
khālidūn(a).
(Adapun) orang-orang yang beriman dan
mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut
kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.
43.
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ
تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُۚ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ
وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُ ۚ لَقَدْ جَاۤءَتْ
رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّۗ وَنُوْدُوْٓا اَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ
اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Wa naza‘nā mā fī ṣudūrihim min gillin tajrī
min taḥtihimul-anhār(u), wa qālul-ḥamdu lillāhil-lażī hadānā lihāżā, wa mā
kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh(u), laqad jā'at rusulu rabbinā
bil-ḥaqq(i), wa nūdū an tilkumul-jannatu ūriṡtumūhā bimā kuntum ta‘malūn(a).
Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada
mereka, (di surga) mengalir di bawah mereka sungai-sungai. Mereka berkata,
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak
akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sungguh,
rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada
mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang selalu
kamu kerjakan.”
44.
وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ اَصْحٰبَ النَّارِ اَنْ قَدْ
وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُّمْ مَّا وَعَدَ
رَبُّكُمْ حَقًّا ۗقَالُوْا نَعَمْۚ فَاَذَّنَ مُؤَذِّنٌۢ بَيْنَهُمْ اَنْ
لَّعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ
Wa nādā aṣḥābul-jannati aṣḥāban-nāri an qad
wajadnā mā wa‘adanā rabbunā ḥaqqan fahal wajattum mā wa‘ada rabbukum ḥaqqā(n),
qālū na‘am, fa ażżana mu'ażżinum bainahum al la‘natullāhi ‘alaẓ-ẓālimīn(a).
Para penghuni surga menyeru para penghuni
neraka, “Sungguh, kami telah mendapati sesuatu (surga) yang dijanjikan Tuhan
kepada kami itu benar. Apakah kamu telah mendapati (pula) sesuatu (azab) yang
dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian
penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang
yang zalim.”
45.
اَلَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَيَبْغُوْنَهَا
عِوَجًاۚ وَهُمْ بِالْاٰخِرَةِ كٰفِرُوْنَۘ
Al-lażīna yaṣuddūna ‘an sabīlillāhi wa
yabgūnahā ‘iwajā(n), wa hum bil-ākhirati kāfirūn(a).
(Mereka adalah) orang-orang yang
menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah serta menginginkan jalan itu
menjadi bengkok dan mereka itu orang-orang yang mengingkari (kehidupan)
akhirat.
46.
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌۚ وَعَلَى الْاَعْرَافِ رِجَالٌ
يَّعْرِفُوْنَ كُلًّا ۢ بِسِيْمٰىهُمْۚ وَنَادَوْا اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ
سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۗ لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ
Wa bainahumā ḥijāb(un), wa ‘alal-a‘rāfi
rijāluy ya‘rifūna kullam bisīmāhum, wa nādau aṣḥābal-jannati an salāmun
‘alaikum, lam yadkhulūhā wa hum yaṭma‘ūn(a).
Di antara keduanya (para penghuni surga dan
neraka) ada batas pemisah dan di atas tempat yang tertinggi (al-a‘rāf) ada
orang-orang yang saling mengenal dengan tandanya masing-masing. Mereka menyeru
para penghuni surga, “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu).”
Mereka belum dapat memasukinya, padahal mereka sangat ingin (memasukinya).
47.
۞
وَاِذَا صُرِفَتْ اَبْصَارُهُمْ تِلْقَاۤءَ اَصْحٰبِ النَّارِۙ قَالُوْا رَبَّنَا
لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ
Wa iżā ṣurifat abṣāruhum tilqā'a aṣḥābin-nāri
qālū rabbanā lā taj‘alnā ma‘al-qaumiẓ-ẓālimīn(a).
Apabila pandangan mereka dialihkan ke arah
penghuni neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan
kami bersama kaum yang zalim itu.”
48.
وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْاَعْرَافِ رِجَالًا يَّعْرِفُوْنَهُمْ
بِسِيْمٰىهُمْ قَالُوْا مَآ اَغْنٰى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ
تَسْتَكْبِرُوْنَ
Wa nādā aṣḥābul-a‘rāfi rijālay ya‘rifūnahum
bisīmāhum qālū mā agnā ‘ankum jam‘ukum wa mā kuntum tastakbirūn(a).
Orang-orang di atas tempat yang tertinggi
(al-a‘rāf) menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tanda (khusus)
sambil berkata, “Tidak ada manfaatnya bagimu (harta) yang kamu kumpulkan dan
apa yang selalu kamu sombongkan.
49.
اَهٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللّٰهُ
بِرَحْمَةٍۗ اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ اَنْتُمْ
تَحْزَنُوْنَ
Ahā'ulā'il-lażīna aqsamtum lā yanāluhumullāhu
biraḥmah(tin), udkhulul-jannata lā khaufun ‘alaikum wa lā antum taḥzanūn(a).
Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah
(ketika kamu hidup di dunia), bahwa mereka tidak akan diberi rahmat oleh
Allah?” (Allah berfirman,) “Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut
padamu dan kamu juga tidak akan bersedih.”
50.
وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ النَّارِ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ اَفِيْضُوْا
عَلَيْنَا مِنَ الْمَاۤءِ اَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۗقَالُوْٓا اِنَّ
اللّٰهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكٰفِرِيْنَۙ
Wa nādā aṣḥābun-nāri aṣḥābal-jannati an afīḍū
‘alainā minal-mā'i au mimmā razaqakumullāh(u), qālū innallāha ḥarramahumā
‘alal-kāfirīn(a).
Para penghuni neraka menyeru para penghuni
surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah
dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya Allah telah
mengharamkan keduanya (air dan rezeki) bagi orang-orang kafir.”
51.
الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَهْوًا وَّلَعِبًا
وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۚ فَالْيَوْمَ نَنْسٰىهُمْ كَمَا نَسُوْا
لِقَاۤءَ يَوْمِهِمْ هٰذَاۙ وَمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ
Al-lażīnattakhażū dīnahum lahwaw wa la‘ibaw wa
garrathumul-ḥayātud-dun-yā, fal-yauma nansāhum kamā nasū liqā'a yaumihim hāżā,
wa mā kānū bi'āyātinā yajḥadūn(a).
(Mereka adalah) orang-orang yang menjadikan
agamanya sebagai kelengahan dan permainan serta mereka telah tertipu oleh
kehidupan dunia. Maka, pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka
sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini dan karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami.
52.
وَلَقَدْ جِئْنٰهُمْ بِكِتٰبٍ فَصَّلْنٰهُ عَلٰى عِلْمٍ هُدًى
وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Wa laqad ji'nāhum bikitābin faṣṣalnāhu ‘alā
‘ilmin hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu'minūn(a).
Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka
Kitab (Al-Qur’an) yang telah Kami jelaskan secara terperinci atas dasar
pengetahuan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
53.
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا تَأْوِيْلَهٗۗ يَوْمَ يَأْتِيْ
تَأْوِيْلُهٗ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ نَسُوْهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُ
رَبِّنَا بِالْحَقِّۚ فَهَلْ لَّنَا مِنْ شُفَعَاۤءَ فَيَشْفَعُوْا لَنَآ اَوْ
نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ قَدْ خَسِرُوْٓا
اَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ
Hal yanẓurūna illā ta'wīlah(ū), yauma ya'tī
ta'wīluhū yaqūlul-lażīna nasūhu min qablu qad jā'at rusulu rabbinā bil-ḥaqq(i),
fahal lanā min syufa‘ā'a fa yasyfa‘ū lanā au nuraddu fa na‘mala gairal-lażī
kunnā na‘mal(u), qad khasirū anfusahum wa ḍalla ‘anhum mā kānū yaftarūn(a).
Tidakkah mereka menunggu kecuali takwilnya
(terwujudnya kebenaran Al-Qur’an). Pada hari bukti kebenaran itu tiba,
orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya berkata, “Sungguh, rasul-rasul
Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka adakah pemberi syafaat bagi
kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan
(ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami
lakukan dahulu?” Sungguh, mereka telah merugikan diri sendiri dan telah hilang
lenyap dari mereka apa pun yang dahulu mereka ada-adakan.
54.
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ
فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ
النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ
مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ
رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
Inna rabbakumullāhul-lażī khalaqas-samāwāti
wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy(i), yugsyil-lailan-nahāra
yaṭlubuhū ḥaṡīṡā(n), wasy-syamsa wal-qamara wan-nujūma musakhkharātim
bi'amrih(ī), alā lahul-khalqu wal-amr(u), tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn(a).
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ʻArasy. Dia menutupkan malam pada siang yang
mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang
tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan
urusan. Maha berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam.
55.
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ
الْمُعْتَدِيْنَۚ
Ud‘ū rabbakum taḍarru‘aw wa khufūyah(tan),
innahū lā yuḥibbul-mu‘tadīn(a).
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati
dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.
56.
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ
خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Wa lā tufsidū fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā wad‘ūhu
khaufaw wa ṭama‘ā(n), inna raḥmatallāhi qarībum minal-muḥsinīn(a).
Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi
setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh
harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat
baik.
57.
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ
رَحْمَتِهٖۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ
مَّيِّتٍ فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاۤءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ
الثَّمَرٰتِۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Wa huwal-lażī yursilur-riyāḥa busyram baina
yadai raḥmatih(ī), ḥattā iżā aqallat saḥāban ṡiqālan suqnāhu libaladim mayyitin
fa anzalnā bihil-mā'a fa akhrajnā bihī min kulliṡ-ṡamarāt(i), każālika
nukhrijul-mautā la‘allakum tażakkarūn(a).
Dialah yang mendatangkan angin sebagai kabar
gembira yang mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila (angin
itu) telah memikul awan yang berat, Kami halau ia ke suatu negeri yang mati
(tandus), lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan
dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan
orang-orang mati agar kamu selalu ingat.
58.
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖۚ
وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًاۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ
لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ ࣖ
Wal-baladuṭ-ṭayyibu yakhruju nabātuhū bi'iżni
rabbih(ī), wal-lażī khabuṡa lā yakhruju illā nakidā(n), każālika
nuṣarriful-āyāti liqaumiy yasykurūn(a).
Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh
subur seizin Tuhannya. Adapun tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya
tumbuh merana. Demikianlah Kami jelaskan berulang kali tanda-tanda kebesaran
(Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
59.
لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ
اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ
عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
Laqad arsalnā nūḥan ilā qaumihī fa qāla yā
qaumi‘budullāha mā lakum min ilāhin gairuh(ū), innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba
yaumin ‘aẓīm(in).
Sungguh, Kami telah mengutus Nuh (sebagai
rasul) kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena)
tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah
Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat).
60.
قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ ضَلٰلٍ
مُّبِيْنٍ
Qālal mala'u min qaumihī innā lanarāka fī
ḍalālim mubīn(in).
Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata,
“Sesungguhnya kami benar-benar melihatmu (berada) dalam kesesatan yang nyata.”
61.
قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ ضَلٰلَةٌ وَّلٰكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ
رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Qāla yā qaumi laisa bī ḍalālatuw wa lākinnī
rasūlum mir rabbil-‘ālamīn(a).
Dia (Nuh) menjawab, “Hai kaumku, tidak ada
padaku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah rasul dari Tuhan semesta alam.
62.
اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنْصَحُ لَكُمْ وَاَعْلَمُ مِنَ
اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Uballigukum risālāti rabbī wa anṣaḥu lakum wa
a‘lamu minallāhi mā lā ta‘lamūn(a).
Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat)
Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang
tidak kamu ketahui.
63.
اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى
رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Awa‘ajibtum an jā'akum żikrum mir rabbikum
‘alā rajulim minkum liyunżirakum wa litattaqū wa la‘allakum turḥamūn(a).
Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa
telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu kepada seorang laki-laki dari
golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa, dan agar
kamu mendapat rahmat?”
64.
فَكَذَّبُوْهُ فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ فِى الْفُلْكِ
وَاَغْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا
عَمِيْنَ ࣖ
Fa każżabūhu fa anjaināhu wal-lażīna ma‘ahū
fil-fulki wa agraqnal-lażīna każżabū bi'āyātinā, innahum kānū qauman ‘amīn(a).
(Karena) mereka mendustakannya (Nuh), Kami
selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera serta Kami
tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka
adalah kaum yang buta (mata hatinya).
65.
۞
وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ
مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ
Wa ilā ‘ādin akhāḥum hūdā(n), qāla yā
qaumi‘budullāha mā lakum min ilāhin gairuh(ū), afalā tattaqūn(a).
(Kami telah mengutus) kepada (kaum) ‘Ad
saudara mereka, Hud. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada
tuhan bagimu selain Dia. Tidakkah kamu bertakwa?”
66.
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا
لَنَرٰىكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ
Qālal-mala'ul-lażīna kafarū min qaumihī innā
lanarāka fī safāhatiw wa innā lanaẓunnuka minal-kāżibīn(a).
Para pemuka yang kufur di antara kaumnya
berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu dalam keadaan kurang akal
dan sesungguhnya kami menduga bahwa kamu termasuk para pembohong.”
67.
قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ سَفَاهَةٌ وَّلٰكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ
رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Qāla yā qaumi laisa bī safāhatuw wa lākinnī
rasūlum mir rabbil-‘ālamīn(a).
Dia (Hud) berkata, “Wahai kaumku, tidak ada
padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah rasul dari Tuhan
semesta alam.
68.
اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنَا۠ لَكُمْ نَاصِحٌ اَمِيْنٌ
Uballigukum risālāti rabbī wa ana lakum
nāṣiḥun amīn(un).
Aku sampaikan kepadamu risalah-risalah
(amanat) Tuhanku dan aku terhadap kamu adalah penasihat yang tepercaya.
69.
اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى
رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْۗ وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ
بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةً ۚفَاذْكُرُوْٓا
اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Awa‘ajibtum an jā'akum żikrum mir rabbikum
‘alā rajulim minkum liyunżirakum, ważkurū iż ja‘alakum khulafā'a mim ba‘di
qaumi nūḥiw wa zādakum fil-khalqi basṭah(tan), fażkurū ālā'allāhi la‘allakum
tufliḥūn(a).
Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa
telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu atas seorang laki-laki dari
golonganmu supaya dia memberi peringatan kepadamu? Ingatlah, ketika Dia (Allah)
menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan
melebihkan kamu dalam penciptaan (berupa) tubuh yang tinggi, besar, dan kuat.
Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
70.
قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّٰهَ وَحْدَهٗ وَنَذَرَ مَا
كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَاۚ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ
الصّٰدِقِيْنَ
Qālū aji'tanā lina‘budallāha waḥdahū wa nażara
mā kāna ya‘budu ābā'unā, fa'tinā bimā ta‘idunā in kunta minaṣ ṣādiqīn(a).
Mereka berkata, “Apakah engkau (wahai Hud)
datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang
biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka, datangkanlah kepada kami apa yang
kamu janjikan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
71.
قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ رِجْسٌ وَّغَضَبٌۗ
اَتُجَادِلُوْنَنِيْ فِيْٓ اَسْمَاۤءٍ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ
مَّا نَزَّلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ فَانْتَظِرُوْٓا اِنِّيْ مَعَكُمْ
مِّنَ الْمُنْتَظِرِيْنَ
Qāla qad waqa‘a ‘alaikum mir rabbikum rijsuw
wa gaḍab(un), atujādilūnanī fī asmā'in sammaitumūhā antum wa ābā'ukum mā
nazzalallāhu bihā min sulṭān(in), fantaẓirū innī ma‘akum minal-muntaẓirīn(a).
Dia (Hud) berkata, “Sungguh, sudah pasti kamu
akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak
berbantah dengan Aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek
moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan sedikit pun hujah (alasan
pembenaran) untuk itu? Maka, tunggulah (azab dan kemarahan itu)! Sesungguhnya
aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu.”
72.
فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا
وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَمَا كَانُوْا
مُؤْمِنِيْنَ ࣖ
Fa anjaināhu wal-lażīna ma‘ahū biraḥmatim
minnā wa qaṭa‘nā dābiral-lażīna każżabū bi'āyātinā wa mā kānū mu'minīn(a).
Maka, Kami selamatkan dia (Hud) dan
orang-orang yang bersamanya karena rahmat yang besar dari Kami, dan Kami
binasakan sampai akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan
mereka bukanlah orang-orang mukmin.
73.
وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا
اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ
رَّبِّكُمْۗ هٰذِهٖ نَاقَةُ اللّٰهِ لَكُمْ اٰيَةً فَذَرُوْهَا تَأْكُلْ فِيْٓ
اَرْضِ اللّٰهِ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Wa ilā ṡamūda akhāhum ṣāliḥā(n), qāla yā
qaumi‘budullāha mā lakum min ilāhin gairuh(ū), qad jā'atkum bayyinatum mir
rabbikum, hāżihī nāqatullāhi lakum āyatan fa żarūhā ta'kul fī arḍillāhi wa lā
tamassūhā bisū'in fa ya'khużakum ‘ażābun alīm(un).
(Kami telah mengutus) kepada (kaum) Samud
saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada
bagi kamu tuhan selain Dia. Sungguh, telah datang kepada kamu bukti yang nyata
dari Tuhanmu. Ini adalah unta betina Allah untuk kamu sebagai mukjizat. Maka,
biarkanlah ia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan
keburukan apa pun sehingga kamu ditimpa siksa yang sangat pedih.”
74.
وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ
وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا
وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا
تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
Ważkurū iż ja‘alakum khulafā'a mim ba‘di ‘ādiw
wa bawwa'akum fil-arḍi tattakhiżūna min suhūlihā quṣūraw wa tanḥitūnal-jibāla
buyūtā(n), fażkurū ālā'allāhi wa lā ta‘ṡau fil-arḍi mufsidīn(a).
Ingatlah ketika (Allah) menjadikan kamu
pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di
bumi. Kamu membuat pada dataran rendahnya bangunan-bangunan besar dan kamu
pahat gunung-gunungnya menjadi rumah. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah dan
janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.
75.
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ
لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِمَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ اَتَعْلَمُوْنَ اَنَّ صٰلِحًا
مُّرْسَلٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلَ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ
Qālal-mala'ul-lażīnastakbarū min qaumihī
lil-lażīnastuḍ‘ifū liman āmana minhum ata‘lamūna anna ṣāliḥam mursalum mir
rabbih(ī), qālū innā bimā ursila bihī mu'minūn(a).
Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di
antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah
beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh
Tuhannya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami beriman kepada apa (wahyu) yang
dibawanya.”
76.
قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا بِالَّذِيْٓ اٰمَنْتُمْ
بِهٖ كٰفِرُوْنَ
Qālal-lażīnastakbarū innā bil-lażī āmantum
bihī kāfirūn(a).
Orang-orang yang menyombongkan diri berkata,
“Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkari apa yang kamu imani.”
77.
فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوْا
يٰصٰلِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
Fa ‘aqarun-nāqata wa ‘atau ‘an amri rabbihim
wa qālū yā ṣāliḥu'tinā bimā ta‘idunā in kunta minal-mursalīn(a).
Lalu, mereka memotong unta betina itu dan
mereka melampaui batas terhadap perintah Tuhan mereka, dan mereka berkata,
“Wahai Saleh, datangkanlah kepada kami apa (ancaman siksa) yang engkau janjikan
kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang diutus (Allah).”
78.
فَاَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دَارِهِمْ
جٰثِمِيْنَ
Fa akhażathumur-rajfatu fa aṣbaḥū fī dārihim
jāṡimīn(a).
Maka, gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga
mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat
tinggal mereka.
79.
فَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰقَوْمِ لَقَدْ اَبْلَغْتُكُمْ
رِسَالَةَ رَبِّيْ وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُحِبُّوْنَ النّٰصِحِيْنَ
Fa tawallā ‘anhum wa qāla yā qaumi laqad
ablagtukum risālata rabbī wa naṣaḥtu lakum wa lākil lā tuḥibbūnan-nāṣiḥīn(a).
Maka, dia (Saleh) meninggalkan mereka seraya
berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu risalah
(amanat) Tuhanku dan aku telah menasihatimu, tetapi kamu tidak menyukai para
pemberi nasihat.”
80.
وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ مَا
سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ
Wa lūṭan iż qāla liqaumihī ata'tūnal-fāḥisyata
mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn(a).
(Kami juga telah mengutus) Lut (kepada
kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Apakah kamu
mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun
sebelum kamu di dunia ini?
81.
اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّنْ دُوْنِ
النِّسَاۤءِۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ
Innakum lata'tūnar-rijāla syahwatam min
dūnin-nisā'(i), bal antum qaumum musrifūn(a).
Sesungguhnya kamu benar-benar mendatangi
laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan, bahkan kamu
adalah kaum yang melampaui batas.”
82.
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا
اَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۚ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ
Wa mā kāna jawāba qaumihī illā an qālū
akhrijūhum min qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharūn(a).
Tidak ada jawaban kaumnya selain berkata,
“Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini. Sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang menganggap dirinya suci.”
83.
فَاَنْجَيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اِلَّا امْرَاَتَهٗ كَانَتْ مِنَ الْغٰبِرِيْنَ
Fa anjaināhu wa ahlahū illamra'atahū kānat
minal-gābirīn(a).
Maka, Kami selamatkan dia dan pengikutnya,
kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk (orang-orang kafir) yang tertinggal.
84.
وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُجْرِمِيْنَ ࣖ
Wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā(n), fanẓur kaifa
kāna ‘āqibatul-mujrimīn(a).
Kami hujani mereka dengan hujan (batu).
Perhatikanlah, bagaimana kesudahan para pendurhaka.
85.
وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا
اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ
رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ
اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ
خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ
Wa ilā madyana akhāhum syu‘aibā(n), qāla yā
qaumi‘budullāha mā lakum min ilāhin gairuh(ū), qad jā'atkum bayyinatum mir
rabbikum fa auful-kaila wal-mīzāna wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā'ahum wa lā
tufsidū fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā, żālikum khairul lakum in kuntum mu'minīn(a).
Kepada penduduk Madyan, Kami (utus) saudara
mereka, Syuʻaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada
bagimu tuhan (yang disembah) selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti
yang nyata dari Tuhanmu. Maka, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan
janganlah merugikan (hak-hak) orang lain sedikit pun. Jangan (pula) berbuat
kerusakan di bumi setelah perbaikannya. Itulah lebih baik bagimu, jika kamu
beriman.”
86.
وَلَا تَقْعُدُوْا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوْعِدُوْنَ وَتَصُدُّوْنَ
عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِهٖ وَتَبْغُوْنَهَا عِوَجًاۚ وَاذْكُرُوْٓا
اِذْ كُنْتُمْ قَلِيْلًا فَكَثَّرَكُمْۖ وَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُفْسِدِيْنَ
Wa lā taq‘udū bikulli ṣirāṭin tū‘idūna wa
taṣuddūna ‘an sabīlillāhi man āmana bihī wa tabgūnahā ‘iwajā(n), ważkurū iż
kuntum qalīlan fa kaṡṡarakum, wanẓurū kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn(a).
Janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan
menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan
Allah, serta ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu
Allah memperbanyak jumlah kamu. Perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang
yang berbuat kerusakan.
87.
وَاِنْ كَانَ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْكُمْ اٰمَنُوْا بِالَّذِيْٓ
اُرْسِلْتُ بِهٖ وَطَاۤىِٕفَةٌ لَّمْ يُؤْمِنُوْا فَاصْبِرُوْا حَتّٰى يَحْكُمَ
اللّٰهُ بَيْنَنَاۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَ ۔
Wa in kāna ṭā'ifatum minkum āmanū bil-lażī
ursiltu bihī wa ṭā'ifatul lam tu'minū faṣbirū ḥattā yaḥkumallāhu bainanā, wa huwa
khairul-ḥākimīn(a).
Jika ada segolongan di antara kamu yang
beriman kepada (ajaran) yang aku diutus menyampaikannya dan ada (pula)
segolongan yang tidak beriman, bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di
antara kita. Dia adalah pemberi putusan yang terbaik.
88.
۞
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَنُخْرِجَنَّكَ
يٰشُعَيْبُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ
فِيْ مِلَّتِنَاۗ قَالَ اَوَلَوْ كُنَّا كٰرِهِيْنَ
Qālal-mala'ul-lażīnastakbarū min qaumihī
lanukhrijannaka yā syu‘aibu wal-lażīna āmanū ma‘aka min qaryatinā au
lata‘ūdunna fī millatinā, qāla awalau kunnā kārihīn(a).
Para pemuka yang sombong dari kaumnya berkata,
“Wahai Syuʻaib, sungguh, kami akan
mengusirmu bersama orang-orang yang beriman kepadamu dari negeri kami, kecuali
engkau benar-benar kembali kepada agama kami.” Syuʻaib berkata, “Apakah (kami kembali padanya) meskipun kami membenci(-nya)?
89.
قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اِنْ عُدْنَا فِيْ
مِلَّتِكُمْ بَعْدَ اِذْ نَجّٰىنَا اللّٰهُ مِنْهَاۗ وَمَا يَكُوْنُ لَنَآ اَنْ
نَّعُوْدَ فِيْهَآ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّنَاۗ وَسِعَ رَبُّنَا
كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًاۗ عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَاۗ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا
وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفٰتِحِيْنَ
Qadiftarainā ‘alallāhi każiban in ‘udnā fī
millatikum ba‘da iż najjānallāhu minhā, wa mā yakūnu lanā an na‘ūda fīhā illā
ay yasyā'allāhu rabbunā, wasi‘a rabbunā kulla syai'in ‘ilmā(n), ‘alallāhi
tawakkalnā, rabbanaftaḥ bainanā wa baina qauminā bil-ḥaqqi wa anta khairul-fātiḥīn(a).
Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan
besar kepada Allah jika kami kembali pada agamamu setelah Allah menyelamatkan
kami darinya. Tidaklah patut kami kembali padanya, kecuali jika Allah Tuhan
kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada
Allah kami bertawakal. Wahai Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum
kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik.”
90.
وَقَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَىِٕنِ
اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا اِنَّكُمْ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ
Wa qālal-mala'ul-lażīna kafarū min qaumihī
la'inittaba‘tum syu‘aiban innakum iżal lakhāsirūn(a).
Para pemuka orang-orang yang kufur dari
kaumnya berkata (kepada sesamanya), “Sungguh, jika kamu mengikuti Syuʻaib, niscaya kamu benar-benar menjadi
orang-orang yang rugi.”
91.
فَاَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دَارِهِمْ
جٰثِمِيْنَۙ
Fa akhażathumur-rajfatu fa aṣbaḥū fī dārihim
jāṡimīn(a).
Maka, gempa (dahsyat) menimpa mereka sehingga
mereka menjadi (mayat-mayat yang) bergelimpangan di dalam (reruntuhan) tempat
tinggal mereka.
92.
الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا شُعَيْبًا كَاَنْ لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَاۚ
اَلَّذِيْنَ كَذَّبُوْا شُعَيْبًا كَانُوْا هُمُ الْخٰسِرِيْنَ
Al-lażīna każżabū syu‘aiban ka'allam yagnau
fīhā, al-lażīna każżabū syu‘aiban kānū humul-khāsirīn(a).
Orang-orang yang mendustakan Syuʻaib seakan-akan belum pernah tinggal di
(negeri) itu. Mereka yang mendustakan Syuʻaib itulah orang-orang yang rugi.
93.
فَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰقَوْمِ لَقَدْ اَبْلَغْتُكُمْ
رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَنَصَحْتُ لَكُمْۚ فَكَيْفَ اٰسٰى عَلٰى قَوْمٍ كٰفِرِيْنَ ࣖ
Fa tawallā ‘anhum wa qāla yā qaumi laqad
ablagtukum risālāti rabbī wa naṣaḥtu lakum, fa kaifa āsā ‘alā qaumin
kāfirīn(a).
(Ketika Syuʻaib yakin azab akan menimpa kaum kafir,) ia meninggalkan mereka
seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku benar-benar telah menyampaikan risalah
Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihatimu. Maka, bagaimana aku akan bersedih
terhadap kaum kafir?”
94.
وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّبِيٍّ اِلَّآ
اَخَذْنَآ اَهْلَهَا بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُوْنَ
Wa mā arsalnā fī qaryatim min nabiyyin illā
akhażnā ahlahā bil-ba'sā'i waḍ-ḍarrā'i la‘allahum yaḍḍarra‘ūn(a).
Kami tidak mengutus seorang nabi pun di suatu
negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu,) melainkan Kami timpakan kepada
penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan
diri.
95.
ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتّٰى عَفَوْا
وَّقَالُوْا قَدْ مَسَّ اٰبَاۤءَنَا الضَّرَّاۤءُ وَالسَّرَّاۤءُ فَاَخَذْنٰهُمْ
بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
Ṡumma baddalnā makānas-sayyi'atil-ḥasanata
ḥattā ‘afau wa qālū qad massa ābā'anaḍ-ḍarrā'u was-sarrā'u fa akhażnāhum
bagtataw wa hum lā yasy‘urūn(a).
Kemudian, Kami ganti penderitaan itu dengan
kesenangan (sehingga keturunan dan harta mereka) bertambah banyak. Lalu, mereka
berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan
kesenangan.” Maka, Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba,
sedangkan mereka tidak menyadari.
96.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Wa lau anna ahlal-qurā āmanū wattaqau
lafataḥnā ‘alaihim barakātim minas-samā'i wal ardḍi wa lākin każżabū fa
akhażnāhum bimā kānū yaksibūn(a).
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari
langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat
Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka
kerjakan.
97.
اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا
بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ
Afa amina ahlul-qurā ay ya'tiyahum ba'sunā
bayātaw wa hum nā'imūn(a).
Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman
dari siksa Kami yang datang pada malam hari ketika mereka sedang tidur?
98.
اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى
وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ
Awa amina ahlul-qurā ay ya'tiyahum ba'sunā
ḍuḥaw wa hum yal‘abūn(a).
Atau, apakah penduduk negeri-negeri itu merasa
aman dari siksa Kami yang datang pada waktu duha (waktu menjelang tengah hari)
ketika mereka sedang bermain?
99.
اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ
اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ
Afa aminū makrallāh(i), falā ya'manu
makrallāhi illal-qaumul khāsirūn(a).
Atau, apakah mereka merasa aman dari siksa
Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada orang yang merasa aman dari siksa
Allah, selain kaum yang rugi.
100.
اَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِ
اَهْلِهَآ اَنْ لَّوْ نَشَاۤءُ اَصَبْنٰهُمْ بِذُنُوْبِهِمْۚ وَنَطْبَعُ عَلٰى
قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَ
Awalam yahdi lil-lażīna yariṡūnal-arḍa mim
ba‘di ahlihā allau nasyā'u aṣabnāhum biżunūbihim, wa naṭba‘u ‘alā qulūbihim
fahum lā yasma‘ūn(a).
Ataukah belum juga jelas bagi orang-orang yang
mewarisi suatu negeri setelah (lenyap) penduduknya, bahwa seandainya Kami
menghendaki, Kami benar-benar akan menimpakan (siksa) kepada mereka karena
dosa-dosanya? Kami akan mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat
mendengar (pelajaran).
101.
تِلْكَ الْقُرٰى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤىِٕهَاۚ وَلَقَدْ
جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۚ فَمَا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْا بِمَا
كَذَّبُوْا مِنْ قَبْلُۗ كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِ الْكٰفِرِيْنَ
Tilkal-qurā naquṣṣu ‘alaika min ambā'ihā, wa
laqad jā'athum rusuluhum bil-bayyināt(i), famā kānū liyu'minū bimā każżabū min
qabl(u), każālika yaṭba‘ullāhu ‘alā qulūbil-kāfirīn(a).
Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu
Kami ceritakan sebagian kisahnya kepadamu (Nabi Muhammad). Sungguh, rasul-rasul
mereka telah datang dengan membawa bukti-bukti yang nyata kepada mereka. Akan
tetapi, mereka tidak mau beriman pada apa yang telah mereka dustakan
sebelumnya. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang kafir.
102.
وَمَا وَجَدْنَا لِاَكْثَرِهِمْ مِّنْ عَهْدٍۚ وَاِنْ وَّجَدْنَآ
اَكْثَرَهُمْ لَفٰسِقِيْنَ
Wa mā wajadnā li'akṡarihim min ‘ahd(in), wa iw
wajadnā akṡarahum lafāsiqīn(a).
Kami tidak mendapati kebanyakan mereka
memenuhi janji. Sesungguhnya Kami dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang
yang fasik.
103.
ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ مُّوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اِلٰى
فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهٖ فَظَلَمُوْا بِهَاۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُفْسِدِيْنَ
Ṡumma ba‘aṡnā mim ba‘dihim mūsā bi'āyātinā ilā
fir‘auna wa mala'ihī fa ẓalamū bihā, fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-mufsidīn(a).
Kemudian, Kami utus Musa setelah mereka dengan
membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami kepada Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya.
Lalu, mereka mengingkarinya. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
berbuat kerusakan.
104.
وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ
الْعٰلَمِيْنَۙ
Wa qāla mūsa yā fir‘aunu innī rasūlum mir
rabbil-‘ālamīn(a).
Musa berkata, “Wahai Fir‘aun, sesungguhnya aku
adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam.
105.
حَقِيْقٌ عَلٰٓى اَنْ لَّآ اَقُوْلَ عَلَى اللّٰهِ اِلَّا
الْحَقَّۗ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَرْسِلْ مَعِيَ
بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ
Ḥaqīqun ‘alā allā aqūla ‘alallāhi
illal-ḥaqq(a), qad ji'tukum bibayyinatim mir rabbikum fa arsil ma‘iya banī
isrā'īl(a).
Wajib atasku tidak mengatakan (sesuatu)
terhadap Allah, kecuali yang hak (benar). Sungguh, aku datang kepadamu dengan
membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, lepaskanlah Bani Israil (pergi)
bersamaku.”
106.
قَالَ اِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِاٰيَةٍ فَأْتِ بِهَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ
الصّٰدِقِيْنَ
Qāla in kunta ji'ta bi'āyatin fa'ti bihā in
kunta minaṣ ṣādiqīn(a).
Dia (Fir‘aun) berkata, “Jika benar engkau
membawa suatu bukti, tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.”
107.
فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ ۖ
Fa alqā ‘aṣāhu fa iżā hiya ṡu‘bānum mubīn(un).
Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya,
tiba-tiba ia (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.
108.
وَّنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِيَ بَيْضَاۤءُ لِلنّٰظِرِيْنَ ࣖ
Wa naza‘a yadahū fa iżā hiya baiḍā'u
lin-nāẓirīn(a).
Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan
itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya).
109.
قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ
عَلِيْمٌۙ
Qālal-mala'u min qaumi fir‘auna inna hāżā
lasāḥirum ‘alīm(un).
Para pemuka kaum Fir‘aun berkata,
“Sesungguhnya orang ini benar-benar penyihir yang sangat pandai.
110.
يُّرِيْدُ اَنْ يُّخْرِجَكُمْ مِّنْ اَرْضِكُمْ ۚ فَمَاذَا
تَأْمُرُوْنَ
Yurīdu ay yukhrijakum min arḍikum, fa māżā
ta'murūn(a).
Dia hendak mengusir kamu dari negerimu.”
(Fir‘aun berkata,) “Maka, apa saran kamu?”
111.
قَالُوْآ اَرْجِهْ وَاَخَاهُ وَاَرْسِلْ فِى الْمَدَاۤىِٕنِ
حٰشِرِيْنَۙ
Qālū arjih wa akhāhu wa arsil fil-madā'ini
ḥāsyirīn(a).
Mereka (para pemuka) itu menjawab, “Beri
tangguhlah dia dan saudaranya dan utuslah ke kota-kota beberapa orang untuk
mengumpulkan (para penyihir)
112.
يَأْتُوْكَ بِكُلِّ سٰحِرٍ عَلِيْمٍ
Ya'tūka bikulli sāḥirin ‘alīm(in).
(agar) mereka membawa semua penyihir yang
pandai kepadamu.”
113.
وَجَاۤءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوْٓا اِنَّ لَنَا لَاَجْرًا
اِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغٰلِبِيْنَ
Wa jā'as-saḥaratu fir‘auna qālū inna lanā
la'ajran in kunnā naḥnul-gālibīn(a).
Para penyihir datang kepada Fir‘aun. Mereka
berkata, “(Apakah) kami benar-benar akan mendapat imbalan jika kami menang?”
114.
قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ
Qāla na‘am wa innakum laminal-muqarrabīn(a).
Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan
sesungguhnya kamu pasti termasuk orang-orang yang didekatkan (kedudukannya
kepadaku).”
115.
قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ
نَّكُوْنَ نَحْنُ الْمُلْقِيْنَ
Qālū yā mūsā immā an tulqiya wa immā an nakūna
naḥnul-mulqīn(a).
Mereka (para penyihir) berkata, “Wahai Musa,
engkaukah yang akan melemparkan (lebih dahulu) atau kami yang melemparkan?”
116.
قَالَ اَلْقُوْاۚ فَلَمَّآ اَلْقَوْا سَحَرُوْٓا اَعْيُنَ
النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوْهُمْ وَجَاۤءُوْ بِسِحْرٍ عَظِيْمٍ
Qāla alqū, falammā alqau saḥarū a‘yunan-nāsi
wastarhabūhum wa jā'ū bisiḥrin ‘aẓīm(in).
Dia (Musa) menjawab, “Lemparkanlah (lebih
dahulu)!” Maka, ketika melemparkan (tali-temali), mereka menyihir mata orang
banyak dan menjadikan mereka takut. Mereka memperlihatkan sihir yang hebat
(menakjubkan).
117.
۞
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَلْقِ عَصَاكَۚ فَاِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَۚ
Wa auḥainā ilā mūsā an alqi ‘aṣāk(a), fa iżā
hiya talqafu mā ya'fikūn(a).
Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah
tongkatmu!” Maka, tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.
118.
فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَۚ
Fa waqa‘al-ḥaqqu wa baṭala mā kānū
ya‘malūn(a).
Maka, terbuktilah kebenaran dan sia-sialah
segala yang mereka kerjakan.
119.
فَغُلِبُوْا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوْا صٰغِرِيْنَۚ
Fa gulibū hunālika wanqalabū ṣāgirīn(a).
Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah
mereka orang-orang yang hina.
120.
وَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ
Wa ulqiyas-saḥaratu sājidīn(a).
Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan
sujud.
121.
قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Qālū āmannā birabbil-‘ālamīn(a).
Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan
semesta alam,
122.
رَبِّ مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ
Rabbi mūsā wa hārūn(a).
(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.”
123.
قَالَ فِرْعَوْنُ اٰمَنْتُمْ بِهٖ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۚ
اِنَّ هٰذَا لَمَكْرٌ مَّكَرْتُمُوْهُ فِى الْمَدِيْنَةِ لِتُخْرِجُوْا مِنْهَآ
اَهْلَهَاۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
Qāla fir‘aunu āmantum bihī qabla an āżana
lakum, inna hāżā lamakrum makartumūhu fil-madīnati litukhrijū minhā ahlahā, fa
saufa ta‘lamūn(a).
Fir‘aun berkata, “Mengapa kamu beriman
kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya ini benar-benar tipu
muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini untuk mengusir penduduknya.
Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini).
124.
لَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ ثُمَّ
لَاُصَلِّبَنَّكُمْ اَجْمَعِيْنَ
La'uqaṭṭi‘anna aidiyakum wa arjulakum min
khilāfin ṡumma la'uṣallibannakum ajma‘īn(a).
Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan
bersilang (tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya) kemudian sungguh akan
aku salib kamu semua.”
125.
قَالُوْٓا اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا مُنْقَلِبُوْنَۙ
Qālū innā ilā rabbinā munqalibūn(a).
Mereka (para penyihir) menjawab, “Sesungguhnya
kami hanya akan kembali kepada Tuhan kami.
126.
وَمَا تَنْقِمُ مِنَّآ اِلَّآ اَنْ اٰمَنَّا بِاٰيٰتِ رَبِّنَا
لَمَّا جَاۤءَتْنَا ۗرَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا
مُسْلِمِيْنَ ࣖ
Wa mā tanqimu minnā illā an āmannā bi'āyāti
rabbinā lammā jā'atnā, rabanā afrig ‘alainā ṣabraw wa tawaffanā muslimīn(a).
Engkau (Fir‘aun) tidak menghukum kami, kecuali
karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang
kepada kami.” (Mereka berdoa,) “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada
kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).”
127.
وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَذَرُ مُوْسٰى
وَقَوْمَهٗ لِيُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَۗ قَالَ
سَنُقَتِّلُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَنَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْۚ وَاِنَّا فَوْقَهُمْ
قٰهِرُوْنَ
Wa qālal-mala'u min qaumi fir‘auna atażaru
mūsā wa qaumahū liyufsidū fil-arḍi wa yażaraka wa ālihatak(a), qāla sanuqattilu
abnā'ahum wa nastaḥyī nisā'ahum, wa innā fauqahum qāhirūn(a).
Para pemuka dari kaum Fir‘aun berkata, “Apakah
engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya sehingga mereka berbuat kerusakan di
negeri ini (Mesir) dan dia (Musa) meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?” (Fir‘aun)
menjawab, “Akan kita bunuh anak-anak laki-laki mereka dan kita biarkan hidup
anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.”
128.
قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْاۚ
اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
Qāla mūsā liqaumihista‘īnū billāhi waṣbirū,
innal-arḍa lillāh(i), yūriṡuhā may yasyā'u min ‘ibādih(ī), wal-‘āqibatu
lil-muttaqīn(a).
Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah
pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah.
Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
129.
قَالُوْٓا اُوْذِيْنَا مِنْ قَبْلِ اَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْۢ
بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۗقَالَ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّهْلِكَ عَدُوَّكُمْ
وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Qālū ūżīnā min qabli an ta'tiyanā wa mim ba‘di
mā ji'tanā, qāla ‘asā rabbukum ay yuhlika ‘aduwwakum wa yastakhlifakum fil-arḍi
fa yanẓura kaifa ta‘malūn(a).
Mereka (kaum Musa) berkata, “Kami telah
ditindas (oleh Fir‘aun) sebelum engkau datang kepada kami dan setelah engkau
datang.” (Musa) menjawab, “Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan
menjadikan kamu penguasa di bumi lalu Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu.”
130.
وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ
الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
Wa laqad akhażnā āla fir‘auna bis-sinīna wa
naqṣim minaṡ-ṡamarāti la‘allahum yażżakkarūn(a).
Sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan
kaumnya dengan (mendatangkan) kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar
mereka mengambil pelajaran.
131.
فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖ ۚوَاِنْ
تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗۗ اَلَآ اِنَّمَا
طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
Fa iżā jā'athumul-ḥasanatu qālū lanā hāżihī,
wa in tuṣibhum sayyi'atuy yaṭṭayyarū bimūsā wa mam ma‘ah(ū), alā innamā
ṭā'iruhum ‘indallāhi wa lākinna aksṡarahum lā ya‘lamūn(a).
Maka, apabila kebaikan (kemakmuran) datang
kepada mereka, mereka berkata, “Kami pantas mendapatkan ini (karena usaha
kami).” Jika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa
dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan tentang
nasib mereka (baik dan buruk) di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui.
132.
وَقَالُوْا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهٖ مِنْ اٰيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا
بِهَاۙ فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ
Wa qālū mahmā ta'tinā bihī min āyatil
litasḥaranā bihā, famā naḥnu laka bimu'minīn(a).
Mereka (kaum Fir‘aun) berkata (kepada Musa),
“Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, kami
tidak akan beriman kepadamu.”
133.
فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ
وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍۗ فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا
قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ
Fa arsalnā ‘alaihimuṭ-ṭūfāna wal-jarāda
wal-qummala waḍ-ḍafādi‘a wad-dama āyātim mufaṣṣalāt(in), fastakbarū wa kānū
qaumam mujrimīn(a).
Maka, Kami kirimkan kepada mereka (siksa
berupa) banjir besar, belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah
menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas dan terperinci. Akan tetapi,
mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum pendurhaka.
134.
وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوْا يٰمُوْسَى ادْعُ
لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَۚ لَىِٕنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ
لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۚ
Wa lammā waqa‘a ‘alihimur-rijzu qālū yā
mūsad‘u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak(a), la'in kasyafta ‘annar-rijza lanu'minanna
laka wa lanursilanna ma‘aka banī isrā'īl(a).
Ketika azab (yang telah diterangkan itu)
menimpa mereka, mereka pun berkata, “Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada
Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab
itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan
Bani Israil pergi bersamamu.”
135.
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ اِلٰٓى اَجَلٍ هُمْ
بَالِغُوْهُ اِذَا هُمْ يَنْكُثُوْنَ
Falammā kasyafnā ‘anhumur-rijza ilā ajalin hum
bāligūhu iżā hum yankuṡūn(a).
Namun, setelah Kami hilangkan azab itu dari
mereka hingga batas waktu yang harus mereka penuhi, ternyata mereka ingkar
janji.
136.
فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ
بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
Fantaqamnā minhum fa agraqnāhum fil-yammi
bi'annahum każżabū bi'āyātinā wa kānū ‘anhā gāfilīn(a).
Maka, Kami membalas mereka (dengan siksa yang
lebih berat). Kami tenggelamkan mereka di laut karena mereka telah mendustakan
ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lengah terhadapnya.
137.
وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ
مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَتَمَّتْ
كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ وَدَمَّرْنَا
مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ
Wa auraṡnal-qaumal-lażīna kānū yustaḍ‘afūna
masyāriqal-arḍi wa magāribahal-latī bāraknā fīhā, wa tammat kalimatu
rabbikal-ḥusnā ‘alā banī isrā'īl(a), bimā ṣabarū, wa dammarnā mā kāna yaṣna‘u
fir‘aunu wa qaumuhū wa mā kānū ya‘risyūn(a).
Kami wariskan kepada kaum yang selalu
tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi.
(Dengan demikian,) telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai
janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Kami hancurkan apa pun
yang telah dibuat Fir‘aun dan kaumnya serta apa pun yang telah mereka bangun.
138.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتَوْا عَلٰى
قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰٓى اَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚقَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ
لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ
Wa jāwaznā bibanī isrā'īlal-baḥra fa atau ‘alā
qaumiy ya‘kufūna ‘alā aṣnāmil lahum, qālū yā mūsaj‘al lanā ilāhan kamā lahum
ālihah(tun), qāla innakum qaumun tajhalūn(a).
Kami menyeberangkan Bani Israil (melintasi)
laut itu (dengan selamat). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang masih
tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa, buatlah
untuk kami tuhan (berupa berhala) sebagaimana tuhan-tuhan mereka.” (Musa)
menjawab, “Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.”
139.
اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيْهِ وَبٰطِلٌ مَّا
كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Inna hā'ulā'i mutabbarum mā hum fīhi wa
bāṭilum mā kānū ya‘malūn(a).
Sesungguhnya apa yang mereka anut
(kemusyrikan) akan dihancurkan dan akan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.
140.
قَالَ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْكُمْ اِلٰهًا وَّهُوَ فَضَّلَكُمْ
عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
Qāla agairallāhi abgīkum ilāhaw wa huwa
faḍḍalakum ‘alal-‘ālamīn(a).
Dia (Musa) berkata (kepada kaumnya), “Apakah
aku mencarikan untukmu tuhan selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan
kamu atas segala umat (pada masa itu)?”
141.
وَاِذْ اَنْجَيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ
سُوْۤءَ الْعَذَابِۚ يُقَتِّلُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْۗ
وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ ࣖ
Wa iż anjainākum min āli fir‘auna yasūmūnakum
sū'al-‘ażāb(i), yuqattilūna abnā'akum wa yastaḥyūna nisā'akum wa fī żālikum
balā'um mir rabbikum ‘aẓīm(un).
(Ingatlah wahai Bani Israil) ketika Kami
menyelamatkan kamu dari para pengikut Fir‘aun yang menyiksa kamu dengan siksaan
yang paling buruk. Mereka membunuh anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan
hidup anak-anakmu yang perempuan. Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang
besar dari Tuhanmu.
142.
۞
وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ
مِيْقَاتُ رَبِّهٖٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ۚوَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ
اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ
Wa wā‘adnā mūsā ṡalāṡīna lailataw wa atmamnāhā
bi‘asyrin fa tamma mīqātu rabbihī arba‘īna lailah(tan), wa qāla mūsā li'akhīhi
hārūnakhlufnī fī qaumī wa aṣliḥ wa lā tattabi‘ sabīlal-mufsidīn(a).
Kami telah menjanjikan Musa (untuk memberikan
kitab Taurat setelah bermunajat selama) tiga puluh malam. Kami sempurnakan
jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi). Maka, lengkaplah waktu yang telah
ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Musa berkata kepada saudaranya, (yaitu)
Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah (dirimu dan
kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat
kerusakan.”
143.
وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ
قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ
اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ
اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
Wa lammā jā'a mūsā limīqātinā wa kallamahū
rabbuh(ū), qāla rabbi arinī anẓur ilaik(a), qāla lan tarānī wa lākininẓur
ilal-jabali fa inistaqarra makānahū fa saufa tarānī, falammā tajallā rabbuhū
lil-jabali ja‘alahū dakkaw wa kharra mūsā ṣa‘iqā(n), falammā afāqa qāla
subḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu'minīn(a).
Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada
waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah
berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah
(diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak
akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di
tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika
Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh
dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau.
Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
144.
قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ
بِرِسٰلٰتِيْ وَبِكَلَامِيْ ۖفَخُذْ مَآ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ
Qāla yā mūsā inniṣṭafaituka ‘alan-nāsi
birisālātī wa bikalāmī, fa khuż mā ātaituka wa kum minasy-syākirīn(a).
Dia berfirman, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku
memilih (melebihkan) engkau dari manusia (yang lain) untuk membawa risalah dan
berbicara (langsung) dengan-Ku. Maka, berpegang teguhlah pada apa yang Aku
berikan kepadamu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.”
145.
وَكَتَبْنَا لَهٗ فِى الْاَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً
وَّتَفْصِيْلًا لِّكُلِّ شَيْءٍۚ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَّأْمُرْ قَوْمَكَ
يَأْخُذُوْا بِاَحْسَنِهَا ۗسَاُورِيْكُمْ دَارَ الْفٰسِقِيْنَ
Wa katabnā lahū fil-alwāḥi min kulli syai'im
mau‘iẓataw wa tafṣīlal likulli syai'(in), fa khużhā biquwwatiw wa'mur qaumaka
ya'khużū bi'aḥsanihā, sa'urīkum dāral-fāsiqīn(a).
Kami telah menuliskan untuk Musa pada
lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan untuk segala
hal. Lalu (Kami berfirman kepadanya,) “Berpegang teguhlah padanya dengan
sungguh-sungguh dan suruhlah kaummu berpegang padanya dengan sebaik-baiknya.
Aku akan memperlihatkan kepadamu (kehancuran) negeri orang-orang fasik.”
146.
سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى
الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا
بِهَاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۚ وَاِنْ
يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ
كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
Sa'aṣrifu ‘an āyātiyal-lażīna yatakabbarūna
fil-arḍi bigairil-ḥaqq(i), wa iy yarau kulla āyatil lā yu'minū bihā, wa iy
yarau sabīlar-rusydi lā yattakhiżūhu sabīlā(n), wa iy yarau sabīlal-gayyi
yattakhiżūhu sabīlā(n), żālika bi'annahum każżabū bi'āyātinā wa kānū ‘anhā
gāfilīn(a).
Aku akan memalingkan orang-orang yang
menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda
(kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak
mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak
mau menempuhnya. (Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka
menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan
mereka selalu lengah terhadapnya.
147.
وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَلِقَاۤءِ الْاٰخِرَةِ
حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْۗ هَلْ يُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ࣖ
Wal-lażīna każżabū bi'āyātinā wa
liqā'il-ākhirati ḥabiṭat a‘māluhum, hal yujzauna illā mā kānū ya‘malūn(a).
Orang-orang yang mendustakan tanda-tanda
(kekuasaan) Kami dan adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Bukankah
mereka (tidak) akan dibalas, kecuali (sesuai dengan) apa yang telah mereka
kerjakan.
148.
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوْسٰى مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ حُلِيِّهِمْ
عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌۗ اَلَمْ يَرَوْا اَنَّهٗ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا
يَهْدِيْهِمْ سَبِيْلًاۘ اِتَّخَذُوْهُ وَكَانُوْا ظٰلِمِيْنَ
Wattakhaża mūsā mim ba‘dihī min ḥuliyyihim
‘ijlan jasadal lahū khuwār(un), alam yarau annahū lā yukallimuhum wa lā
yahdīhim sabīlā(n), ittakhażūhu wa kānū ẓālimīn(a).
Kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung
Sinai), membuat (sembahan berupa) patung anak sapi yang bertubuh dan dapat
melenguh (bersuara) dari perhiasan emas mereka. Apakah mereka tidak mengetahui
bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak
dapat (pula) menunjukkan jalan (kebaikan) kepada mereka? (Bahkan,) mereka
menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang zalim.
149.
وَلَمَّا سُقِطَ فِيْٓ اَيْدِيْهِمْ وَرَاَوْا اَنَّهُمْ قَدْ
ضَلُّوْاۙ قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا
لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Wa lammā suqiṭa fī aidīhim wa ra'au annahum
qad ḍallū, qālū la'il lam yarḥamnā rabbunā wa yagfir lanā lanakūnanna
minal-khāsirīn(a).
Setelah mereka (sangat) menyesali perbuatannya
dan mengetahui bahwa mereka benar-benar sesat, mereka berkata, “Sungguh, jika
Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah
kami menjadi orang-orang yang merugi.”
150.
وَلَمَّا رَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًاۙ قَالَ
بِئْسَمَا خَلَفْتُمُوْنِيْ مِنْۢ بَعْدِيْۚ اَعَجِلْتُمْ اَمْرَ رَبِّكُمْۚ
وَاَلْقَى الْاَلْوَاحَ وَاَخَذَ بِرَأْسِ اَخِيْهِ يَجُرُّهٗٓ اِلَيْهِ ۗقَالَ
ابْنَ اُمَّ اِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوْنِيْ وَكَادُوْا يَقْتُلُوْنَنِيْۖ
فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْاَعْدَاۤءَ وَلَا تَجْعَلْنِيْ مَعَ الْقَوْمِ
الظّٰلِمِيْنَ
Wa lammā raja‘a mūsā ilā qaumihī gaḍbāna
asifā(n), qāla bi'samā khalaftumūnī mim ba‘dī, a‘ajiltum amra rabbikum, wa
alqal-alwāḥa wa akhaża bira'si akhīhi yajurruhū ilaih(i), qālabna umma
innal-qaumastaḍ‘afūnī wa kādū yaqtulūnanī, falā tusymit biyal-a‘dā'a wa lā
taj‘alnī ma‘al-qaumiẓ-ẓālimīn(a).
Ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam
keadaan marah lagi sedih, dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu
kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Musa
pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala (menjambak)
saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak
ibuku, kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku.
Oleh karena itu, janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyorakiku (karena
melihat perlakuan kasarmu terhadapku). Janganlah engkau menjadikanku (dalam
pandanganmu) bersama kaum yang zalim.”
151.
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِاَخِيْ وَاَدْخِلْنَا فِيْ
رَحْمَتِكَ ۖوَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ࣖ
Qāla rabbigfirlī wa li'akhī wa adkhilnā fī
raḥmatik(a), wa anta arḥamur-rāḥimīn(a).
Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku
dan saudaraku serta masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu. Engkaulah Maha
Penyayang dari semua yang penyayang.”
152.
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِّنْ
رَّبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى
الْمُفْتَرِيْنَ
Innal-lażīnattakhażul-‘ijla sayanāluhum
gaḍabum mir rabbihim wa żillatun fil-ḥayātid-dun-yā, wa każālika
najzil-muftarīn(a).
Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan
(patung) anak sapi (sebagai sembahan) kelak akan menerima kemurkaan dan
kehinaan dari Tuhan mereka dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang mengada-ada.
153.
وَالَّذِيْنَ عَمِلُوا السَّيِّاٰتِ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ
بَعْدِهَا وَاٰمَنُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Wal-lażīna ‘amilus-sayyi'āti ṡumma tābū mim
ba‘dihā wa āmanū inna rabbaka mim ba‘dihā lagafūrur raḥīm(un).
Orang-orang yang mengerjakan keburukan,
kemudian setelah itu bertobat dan beriman, sesungguhnya Tuhanmu, setelah
(tobat) itu, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
154.
وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُّوْسَى الْغَضَبُ اَخَذَ الْاَلْوَاحَۖ
وَفِيْ نُسْخَتِهَا هُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلَّذِيْنَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُوْنَ
Wa lammā sakata ‘am mūsal-gaḍabu
akhażal-alwāḥ(a), wa fī nuskhatihā hudaw wa raḥmatul lil-lażīna hum lirabbihim
yarhabūn(a).
Setelah amarah Musa mereda, dia mengambil
(kembali) lauh-lauh (Taurat) itu. Di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan
rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.
155.
وَاخْتَارَ مُوْسٰى قَوْمَهٗ سَبْعِيْنَ رَجُلًا لِّمِيْقَاتِنَا
ۚفَلَمَّآ اَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ اَهْلَكْتَهُمْ
مِّنْ قَبْلُ وَاِيَّايَۗ اَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاۤءُ مِنَّاۚ اِنْ
هِيَ اِلَّا فِتْنَتُكَۗ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاۤءُ وَتَهْدِيْ مَنْ تَشَاۤءُۗ
اَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْغٰفِرِيْنَ
Wakhtāra mūsā qaumahū sab‘īna rajulal
limīqātinā, falammā akhażathumur-rajfatu qāla rabbi lau syi'ta ahlaktahum min
qablu wa iyyāy(a), atuhlikunā bimā fa‘alas-sufahā'u minnā, in hiya illā
fitnatuk(a), tuḍillu bihā man tasyā'u wa tahdī man tasyā'(u), anta waliyyunā
fagfir lanā warḥamnā wa anta khairul-gāfirīn(a).
Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya
untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika
mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki,
tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?
(Penyembahan terhadap patung anak sapi) itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau
menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dengan cobaan itu dan Engkau memberi
petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami. Maka, ampunilah
kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun.”
156.
۞
وَاكْتُبْ لَنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ اِنَّا
هُدْنَآ اِلَيْكَۗ قَالَ عَذَابِيْٓ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَاۤءُۚ وَرَحْمَتِيْ
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ
الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ
Waktub lanā fī hāżihid-dun-yā ḥasanataw wa
fil-ākhirati innā hudnā ilaik(a), qāla ‘ażābī uṣību bihī man asyā'(u), wa raḥmatī
wasi‘at kulla syai'(in), fa sa'aktubuhā lil-lażīna yattaqūna wa yu'tūnaz-zakāta
wal-lażīna hum bi'āyātinā yu'minūn(a).
Tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini
dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah)
berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan
rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang
yang bertakwa dan menunaikan zakat serta bagi orang-orang yang beriman pada
ayat-ayat Kami.”
157.
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ
الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ
يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ
الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ
وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ
وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ
ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ
Al-lażīna yattabi‘ūnar-rasūlan
nabiyyal-ummiyyal-lażī yajidūnahū maktūban ‘indahum fit-taurāti wal-injīli
ya'muruhum bil-ma‘rūfi wa yanhāhum ‘anil-munkari wa yuḥillu lahumuṭ-ṭayyibāti
wa yuḥarrimu ‘alaihimul-khabā'iṡa wa yaḍa‘u ‘anhum iṣrahum wal-aglālal-latī
kānat ‘alaihim, fal-lażīna āmanū bihī wa ‘azzarūhu wa naṣarūhu wattaba‘un
nūral-lażī unzila ma‘ah(ū), ulā'ika humul-mufliḥūn(a).
(Yaitu,) orang-orang yang mengikuti Rasul
(Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka
temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh
mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang
baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan
beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang
beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang
diturunkan bersamanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.
158.
قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ
جَمِيْعًا ۨالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا
هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ
الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ
تَهْتَدُوْنَ
Qul yā ayyuhan-nāsu innī rasūlullāhi ilaikum
jamī‘anil-lażī lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), lā ilāha illā huwa yuḥyī wa
yumīt(u), fa āminū billāhi wa rasūlihin-nabiyyil-ummiyyil-lażī yu'minu billāhi
wa kalimatihī wattabi‘ūhu la‘allakum tahtadūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia,
sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan
langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, serta Yang menghidupkan dan
mematikan. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) nabi ummi
(tidak pandai baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya
(kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.”
159.
وَمِنْ قَوْمِ مُوْسٰٓى اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهٖ
يَعْدِلُوْنَ
Wa min qaumi mūsā ummatuy yahdūna bil-ḥaqqi wa
bihī ya‘dilūn(a).
Di antara kaum Musa terdapat suatu umat yang
memberi petunjuk (kepada manusia) dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu
(pula) mereka berlaku adil.
160.
وَقَطَّعْنٰهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ اَسْبَاطًا اُمَمًاۗ
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اِذِ اسْتَسْقٰىهُ قَوْمُهٗٓ اَنِ اضْرِبْ
بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۚ فَانْۢبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًاۗ قَدْ
عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْۗ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ
وَاَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰىۗ كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا
رَزَقْنٰكُمْۗ وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
Wa qaṭṭa‘nāhumuṡnatai ‘asyrata asbāṭan
umamā(n), wa auḥainā ilā mūsā iżistasqāhu qaumuhū aniḍrib bi‘aṣākal-ḥajar(a),
fambajasat minhuṡnatā ‘asyrata ‘ainā(n), qad ‘alima kullu unāsim masyrabahum,
wa ẓallalnā ‘alaihimul-gamāma wa anzalnā ‘alaihimul-manna was-salwā, kulū min
ṭayyibāti mā razaqnākum, wa mā ẓalamūnā wa lākin kānū anfusahum yaẓlimūn(a).
Kami membagi mereka (Bani Israil) menjadi dua
belas suku yang tiap-tiap mereka berjumlah besar. Kami wahyukan kepada Musa
ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”
Maka, memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air. Sungguh, setiap suku
telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Kami naungi mereka dengan awan
dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman), “Makanlah
yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu.” Mereka tidak
menzalimi Kami, tetapi merekalah yang selalu menzalimi dirinya sendiri.
161.
وَاِذْ قِيْلَ لَهُمُ اسْكُنُوْا هٰذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوْا
مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُوْلُوْا حِطَّةٌ وَّادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا
نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطِيْۤـٰٔتِكُمْۗ سَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ
Wa iżā qīla lahumuskunū hāżihil-qaryata wa
kulū minhā ḥaiṡu syi'tum wa qūlū ḥiṭṭatuw wadkhulul-bāba sujjadan nagfir lakum
khaṭī'ātikum, sanazīdul-muḥsinīn(a).
(Ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka
(Bani Israil), “Tinggallah di negeri ini (Baitulmaqdis) dan makanlah dari
(hasil bumi)-nya di mana saja kamu kehendaki, serta katakanlah, ‘Bebaskanlah
kami dari dosa,’ lalu masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk! (Jika kamu
melakukan itu semua,) niscaya Kami mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kami akan
menambah (karunia) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
162.
فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِيْ
قِيْلَ لَهُمْ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِّنَ السَّمَاۤءِ بِمَا كَانُوْا
يَظْلِمُوْنَ ࣖ
Fa baddalal-lażīna ẓalamū minhum qaulan
gairal-lażī qīla lahum fa arsalnā ‘alaihim rijzam minas-samā'i bimā kānū
yaẓlimūn(a).
Maka, orang-orang yang zalim di antara mereka
mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak diperintahkan kepada
mereka. Lalu, Kami timpakan kepada mereka azab dari langit karena mereka selalu
berbuat zalim.
163.
وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ حَاضِرَةَ
الْبَحْرِۘ اِذْ يَعْدُوْنَ فِى السَّبْتِ اِذْ تَأْتِيْهِمْ حِيْتَانُهُمْ يَوْمَ
سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَّيَوْمَ لَا يَسْبِتُوْنَۙ لَا تَأْتِيْهِمْ ۛ كَذٰلِكَ
ۛنَبْلُوْهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ
Was'alhum ‘anil-qaryatil-latī kānat
ḥāḍiratal-baḥr(i), iż ya‘dūna fis-sabti iż ta'tīhim ḥītānuhum yauma sabtihim
syurra‘aw wa yauma lā yasbitūn(a), lā ta'tīhim - każālika - nablūhum bimā kānū
yafsuqūn(a).
Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang
terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, (yaitu)
ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka
bermunculan di permukaan air. Padahal, pada hari-hari yang bukan Sabat
ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka
karena mereka selalu berlaku fasik.
164.
وَاِذْ قَالَتْ اُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُوْنَ قَوْمًاۙ
ۨاللّٰهُ مُهْلِكُهُمْ اَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ قَالُوْا
مَعْذِرَةً اِلٰى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
Wa iż qālat ummatum minhum lima ta‘iẓūna
qaumā(n), allāhu muhlikuhum au mu‘ażżibuhum ‘ażāban syadīdā(n), qālū ma‘żiratan
ilā rabbikum wa la‘allahum yattaqūn(a).
(Ingatlah) ketika salah satu golongan di
antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau
diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami
mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu dan agar mereka
bertakwa.”
165.
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖٓ اَنْجَيْنَا الَّذِيْنَ
يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوْۤءِ وَاَخَذْنَا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا بِعَذَابٍۢ
بَـِٔيْسٍۢ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ
Falammā nasū mā żukkirū bihī anjainal-lażīna
yanhauna ‘anis-sū'i wa akhażnal-lażīna ẓalamū bi‘ażābim ba'īsim bimā kānū
yafsuqūn(a).
Maka, setelah mereka melupakan apa yang
diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah (orang
berbuat) keburukan dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim azab yang
keras karena mereka selalu berbuat fasik.
166.
فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَّا نُهُوْا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ
كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ
Falammā ‘atau ‘am mā nuhū ‘anhu qulnā lahum
kūnū qiradatan khāsi'īn(a).
Kemudian, ketika mereka bersikeras (melampaui
batas) terhadap segala yang dilarang, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu
kera yang hina!”
167.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ اِلٰى يَوْمِ
الْقِيٰمَةِ مَنْ يَّسُوْمُهُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِۗ اِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيْعُ
الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Wa iż ta'ażżana rabbuka layab‘aṡanna ‘alaihim
ilā yaumil-qiyāmati may yasūmuhum sū'al-‘ażāb(i), inna rabbaka
lasarī‘ul-‘iqāb(i), wa innahū lagafūrur raḥīm(un).
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memberitahukan
bahwa sungguh Dia akan mengirimkan kepada mereka (Bani Israil) orang-orang yang
akan menimpakan seburuk-buruk azab kepada mereka sampai hari Kiamat.
Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya dan sesungguhnya Dia Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
168.
وَقَطَّعْنٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اُمَمًاۚ مِنْهُمُ الصّٰلِحُوْنَ
وَمِنْهُمْ دُوْنَ ذٰلِكَ ۖوَبَلَوْنٰهُمْ بِالْحَسَنٰتِ وَالسَّيِّاٰتِ
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Wa qaṭṭa‘nāhum fil-arḍi umamā(n),
minhumuṣ-ṣāliḥūna wa minhum dūna żālik(a), wa balaunāhum bil-ḥasanāti
was-sayyi'āti la‘allahum yarji‘ūn(a).
Kami membagi mereka di bumi ini menjadi beberapa
golongan. Di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada (pula) yang tidak.
Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali
(pada kebenaran).
169.
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ
يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ
يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ
مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ
وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ
اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Fa khalafa mim ba‘dihim khalfuw wariṡul-kitāba
ya'khużūna ‘araḍa hāżal-adnā wa yaqūlūna sayugfaru lanā, wa iy ya'tihim ‘araḍum
miṡluhū ya'khużūh(u), alam yu'khaż ‘alaihim mīṡāqul-kitābi allā yaqūlū
‘alallāhi illal-ḥaqqa wa darasū mā fīh(i), wad-dārul-ākhiratu khairul
lil-lażīna yattaqūn(a), afalā ta‘qilūn(a).
Kemudian, setelah mereka, datanglah generasi
(yang lebih buruk) yang mewarisi kitab suci (Taurat). Mereka mengambil harta
benda (duniawi) yang rendah ini (sebagai ganti dari kebenaran). Lalu, mereka
berkata, “Kami akan diampuni.” Jika nanti harta benda (duniawi) datang kepada
mereka sebanyak itu, niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah mereka
sudah terikat perjanjian dalam kitab suci (Taurat) bahwa mereka tidak akan
mengatakan kepada Allah, kecuali yang benar, dan mereka pun telah mempelajari
apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang
bertakwa. Maka, tidakkah kamu mengerti?
170.
وَالَّذِيْنَ يُمَسِّكُوْنَ بِالْكِتٰبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۗ
اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ الْمُصْلِحِيْنَ
Wal-lażīna yumassikūna bil-kitābi wa
aqāmuṣ-ṣalāh(ta), innā lā nuḍī‘u ajral-muṣliḥīn(a).
Orang-orang yang berpegang teguh pada kitab
suci (Taurat) dan melaksanakan salat, sesungguhnya Kami tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang-orang saleh.
171.
۞
وَاِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَاَنَّهٗ ظُلَّةٌ وَّظَنُّوْٓا اَنَّهٗ
وَاقِعٌۢ بِهِمْۚ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاذْكُرُوْا مَا فِيْهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ࣖ
Wa iż nataqnal-jabala fauqahum ka'annahum
ẓullatuw wa ẓannū annahū wāqi‘um bihim, khużū mā ātainākum biquwwatiw ważkurū
mā fīhi la‘allakum tattaqūn(a).
(Ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung
(dari akarnya) ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu awan dan mereka yakin
bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Kami berfirman kepada mereka,)
“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu serta ingatlah
selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu bertakwa.”
172.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ
قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا
عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Wa iż akhaża rabbuka mim banī ādama min
ẓuhūrihim żurriyyatahum wa asyhadahum ‘alā anfusihim, alastu birabbikum, qālū
balā - syahidnā - an taqūlū yaumal-qiyāmati innā kunnā ‘an hāżā gāfilīn(a).
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari
tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil
kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini
Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami
melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami
lengah terhadap hal ini,”
173.
اَوْ تَقُوْلُوْٓا اِنَّمَآ اَشْرَكَ اٰبَاۤؤُنَا مِنْ قَبْلُ
وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّنْۢ بَعْدِهِمْۚ اَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُوْنَ
Au taqūlū innamā asyraka ābā'unā min qablu wa
kunnā żurriyyatam mim ba‘dihim, afatuhlikunā bimā fa‘alal-mubṭilūn(a).
atau agar kamu (tidak) mengatakan,
“Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan (Tuhan) sejak dahulu,
sedangkan kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka, apakah
Engkau akan menyiksa kami karena perbuatan para pelaku kebatilan?”
174.
وَكَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Wa każālika nufaṣṣilul-āyāti wa la‘allahum
yarji‘ūn(a).
Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci
ayat-ayat itu dan agar mereka kembali (kepada kebenaran).
175.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْٓ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا
فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ
Watlu ‘alaihim naba'al-lażī ātaināhu āyātinā
fansalakha minhā fa atba‘ahusy-syaiṭānu fa kāna minal-gāwīn(a).
Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka
(tentang) berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami kepadanya.
Kemudian, dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan mengikutinya
(dan terus menggodanya) sehingga dia termasuk orang yang sesat.
176.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى
الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ
عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ
كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Wa lau syi'nā larafa‘nāhu bihā wa lākinnahū
akhlada ilal-arḍi wattaba‘a hawāh(u), fa maṡaluhū kamaṡalil-kalb(i), in taḥmil
‘alaihi yalhaṡ au tatrukūhu yalhaṡ, żālika maṡalul-qaumil-lażīna każżabū
bi'āyātinā, faqṣuṣil-qaṣaṣa la‘allahum yatafakkarūn(a).
Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami
tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung pada dunia
dan mengikuti hawa nafsunya. Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu
menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia
menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itu adalah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka
berpikir.
177.
سَاۤءَ مَثَلًا ۨالْقَوْمُ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا
وَاَنْفُسَهُمْ كَانُوْا يَظْلِمُوْنَ
Sā'a maṡalanil-qaumul-lażīna każżabū
bi'āyātinā wa anfusahum kānū yaẓlimūn(a).
Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan
ayat-ayat Kami. Mereka hanya menzalimi diri mereka sendiri.
178.
مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِيْۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ
فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
May yahdillāhu fa huwal-muhtadī, wa may yuḍlil
fa ulā'ika humul-khāsirūn(a).
Siapa saja yang Allah beri petunjuk, dialah
yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang Allah sesatkan, merekalah
orang-orang yang merugi.
179.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ
وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا
يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ
كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
Wa laqad żara'nā lijahannama kaṡīram
minal-jinni wal-ins(i), lahum qulūbul lā yafqahūna bihā wa lahum a‘yunul lā
yabṣirūna bihā wa lahum āżānul lā yasma‘ūna bihā, ulā'ika kal-an‘āmi bal hum
aḍall(u), ulā'ika humul-gāfilūn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan
banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena
kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk
melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan
untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.
180.
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا
الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا
يَعْمَلُوْنَ ۖ
Wa lillāhil-asmā'ul-ḥusnā fad‘ūhu bihā, wa
żarul-lażīna yulḥidūna fī asmā'ih(ī), sayujzauna mā kānū ya‘malūn(a).
Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang
terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut (Asmaulhusna) itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan
mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
181.
وَمِمَّنْ خَلَقْنَآ اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهٖ
يَعْدِلُوْنَ ࣖ
Wa mimman khalaqnā ummatuy yahdūna bil-ḥaqqi
wa bihī ya‘dilūn(a).
Di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan
ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu (pula)
mereka berlaku adil.
182.
وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ
حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ
Wal-lażīna każżabū bi'āyātinā sanastadrijuhum
min ḥaiṡu lā ya‘lamūn(a).
Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang
tidak mereka ketahui.
183.
وَاُمْلِيْ لَهُمْ ۗاِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ
Wa umlī lahum, inna kaidī matīn(un).
Aku memberi tenggang waktu kepada mereka.
Sesungguhnya rencana-Ku sangat teguh.
184.
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِّنْ جِنَّةٍۗ اِنْ
هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
Awalam yatafakkarū mā biṣāḥibihim min
jinnah(tin), in huwa illā nażīrum mubīn(un).
Apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman
mereka (Nabi Muhammad) tidak gila sedikit pun? Dia hanyalah seorang pemberi
peringatan yang jelas.
185.
اَوَلَمْ يَنْظُرُوْا فِيْ مَلَكُوْتِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ وَّاَنْ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنَ قَدِ اقْتَرَبَ
اَجَلُهُمْۖ فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ
Awalam yanẓurū fī malakūtis-samāwāti wal-arḍi
wa mā khalaqallāhu min syai'iw wa an ‘asā ay yakūna qadiqtaraba ajaluhum, fa
bi'ayyi ḥadīṡim ba‘dahū yu'minūn(a).
Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan
langit dan bumi dan segala apa yang Allah ciptakan dan kemungkinan telah makin
dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu, berita mana lagi setelah ini yang
akan mereka percayai?
186.
مَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ ۖوَيَذَرُهُمْ فِيْ
طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
May yuḍlilillāhu falā hādiya lah(ū), wa
yażaruhum fī ṭugyānihim ya‘mahūn(a).
Siapa saja yang Allah sesatkan, tidak ada yang
mampu memberinya petunjuk dan Dia akan membiarkannya terombang-ambing dalam
kesesatan.
187.
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ
اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ
ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً
ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ
اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Yas'alūnaka ‘anis-sā‘ati ayyāna mursāhā, qul
innamā ‘ilmuhā ‘inda rabbī, lā yujallīhā liwaqtihā illā huw(a), ṡaqulat
fis-samāwāti wal-arḍ(i), lā ta'tīkum illā bagtah(tan), yas'alūnaka ka'annaka
ḥafiyyun ‘anhā, qul innamā ‘ilmuhā ‘indallāhi wa lākinna akṡaran nāsi lā
ya‘lamūn(a).
Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad)
tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan
tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat
menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat
(huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang
kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau
mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya
hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
188.
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا
شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ
الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ
لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ
Qul lā amliku linafsī naf‘aw wa lā ḍarran illā
mā syā'allāh(u), wa lau kuntu a‘lamul gaiba-lastakṡartu minal-khair(i) - wa mā
massaniyas-sū'(u) - in ana illā nażīruw wa basyīrul liqaumiy yu'minūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa
mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah
kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah
pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.”
189.
۞
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا
لِيَسْكُنَ اِلَيْهَاۚ فَلَمَّا تَغَشّٰىهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيْفًا فَمَرَّتْ
بِهٖ ۚفَلَمَّآ اَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللّٰهَ رَبَّهُمَا لَىِٕنْ اٰتَيْتَنَا
صَالِحًا لَّنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ
Huwal-lażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw
waja‘ala minhā zaujahā liyaskuna ilaihā, falammā tagasysyāhā ḥamalat ḥamlan
khafīfan fa marrat bih(ī), falammā aṡqalad da‘awallāha rabbahumā la'in ātaitanā
ṣāliḥan lanakūnanna minasy-syākirīn(a).
Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang
satu (Adam) dan darinya Dia menjadikan pasangannya agar dia cenderung dan
merasa tenteram kepadanya. Kemudian, setelah ia mencampurinya, dia (istrinya)
mengandung dengan ringan. Maka, ia pun melewatinya dengan mudah. Kemudian,
ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) memohon kepada Allah, Tuhan
mereka, “Sungguh, jika Engkau memberi kami anak yang saleh, pasti kami termasuk
orang-orang yang bersyukur.”
190.
فَلَمَّآ اٰتٰىهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهٗ شُرَكَاۤءَ فِيْمَآ
اٰتٰىهُمَا ۚفَتَعٰلَى اللّٰهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Falammā ātāhumā ṣāliḥan ja‘alā lahū syurakā'a
fīmā ātāhumā, fa ta‘ālallāhu ‘ammā yusyrikūn(a).
Kemudian, setelah Dia memberi keduanya seorang
anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah dalam (penciptaan) anak
yang telah Dia anugerahkan kepada mereka. Maka, Mahatinggi Allah dari apa yang
mereka persekutukan.
191.
اَيُشْرِكُوْنَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْـًٔا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَۖ
Ayusyrikūna mā lā yakhluqu syai'aw wa hum
yukhlaqūn(a).
Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan)
sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, padahal ia
(berhala) sendiri diciptakan?
192.
وَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ لَهُمْ نَصْرًا وَّلَآ اَنْفُسَهُمْ
يَنْصُرُوْنَ
Wa lā yastaṭī‘ūna lahum naṣraw wa lā anfusahum
yanṣurūn(a).
(Berhala) itu tidak dapat memberikan
pertolongan kepada mereka (para penyembahnya) dan (bahkan) kepada dirinya
sendiri pun ia tidak dapat memberi pertolongan.
193.
وَاِنْ تَدْعُوْهُمْ اِلَى الْهُدٰى لَا يَتَّبِعُوْكُمْۗ سَوَۤاءٌ
عَلَيْكُمْ اَدَعَوْتُمُوْهُمْ اَمْ اَنْتُمْ صٰمِتُوْنَ
Wa in tad‘ūhum ilal-hudā lā yattabi‘ūkum,
sawā'un ‘alaikum ada‘autumūhum am antum ṣāmitūn(a).
Jika kamu (orang-orang musyrik) menyeru mereka
(berhala-berhala itu) untuk memberi petunjuk kepadamu, mereka tidak akan
memenuhi seruanmu. Sama saja (hasilnya) buatmu, apakah kamu menyeru mereka atau
berdiam diri.
194.
اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ عِبَادٌ
اَمْثَالُكُمْ فَادْعُوْهُمْ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Innal-lażīna tad‘ūna min dūnillāhi ‘ibādun amṡālukum
fad‘ūhum falyastajībū lakum in kuntum ṣādiqīn(a).
Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru
selain Allah adalah makhluk (yang lemah) seperti kamu. Maka, serulah mereka,
lalu biarlah mereka memenuhi seruanmu, jika kamu orang yang benar.
195.
اَلَهُمْ اَرْجُلٌ يَّمْشُوْنَ بِهَآ ۖ اَمْ لَهُمْ اَيْدٍ
يَّبْطِشُوْنَ بِهَآ ۖ اَمْ لَهُمْ اَعْيُنٌ يُّبْصِرُوْنَ بِهَآ ۖ اَمْ لَهُمْ
اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۗ قُلِ ادْعُوْا شُرَكَاۤءَكُمْ ثُمَّ كِيْدُوْنِ
فَلَا تُنْظِرُوْنِ
Alahum arjuluy yamsyūna bihā am lahum aidiy
yabṭisyūna bihā am lahum a‘yunuy yubṣirūna bihā am lahum āżānuy yasma‘ūna bihā,
qulid‘ū syurakā'akum ṡumma kīdūni falā tunẓirūn(i).
Apakah mereka (berhala) mempunyai kaki untuk
berjalan, mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, mempunyai mata untuk
melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Nabi Muhammad),
“Panggillah (berhala-berhalamu) yang kamu anggap sekutu Allah, kemudian
lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku dan jangan kamu tunda lagi.
196.
اِنَّ وَلِيِّ َۧ اللّٰهُ الَّذِيْ نَزَّلَ الْكِتٰبَۖ وَهُوَ
يَتَوَلَّى الصّٰلِحِيْنَ
Inna waliyyiyallāhul-lażī nazzalal-kitāb(a),
wa huwa yatawallaṣ-ṣāliḥīn(a).
Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang
telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an). Dia melindungi orang-orang saleh.
197.
وَالَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ
نَصْرَكُمْ وَلَآ اَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُوْنَ
Wal-lażīna tad‘ūna min dūnihī lā yastaṭī‘ūna
naṣrakum wa lā anfusahum yanṣurūn(a).
Berhala-berhala yang kamu seru selain Allah
tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.
198.
وَاِنْ تَدْعُوْهُمْ اِلَى الْهُدٰى لَا يَسْمَعُوْاۗ وَتَرٰىهُمْ
يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ
Wa in tad‘ūhum ilal-hudā lā yasma‘ū, wa
tarāhum yanẓurūna ilaika wa hum lā yubṣirūn(a).
Jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala)
untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Kamu mengira mereka
memperhatikanmu, padahal mereka tidak melihat.”
199.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ
الْجٰهِلِيْنَ
Khużil-‘afwa wa'mur bil-‘urfi wa a‘riḍ
‘anil-jāhilīn(a).
Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada
yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.
200.
وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ
بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun
fasta‘iż billāh(i), innahū samī‘un ‘alīm(un).
Jika setan benar-benar menggodamu dengan
halus, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
201.
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ
الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ
Innal-lażīnattaqau iżā massahum ṭā'ifum
minasy-syaiṭāni tażakkarū fa iżā hum mubṣirūn(a).
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika
mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun
segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat
(kesalahan-kesalahannya).
202.
وَاِخْوَانُهُمْ يَمُدُّوْنَهُمْ فِى الْغَيِّ ثُمَّ لَا
يُقْصِرُوْنَ
Wa ikhwānuhum yamuddūnahum fil-gayyi ṡumma lā
yuqṣirūn(a).
Teman-teman mereka (orang kafir dan fasik)
membantu setan-setan dalam kesesatan, kemudian mereka tidak henti-hentinya
(menyesatkan).
203.
وَاِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِاٰيَةٍ قَالُوْا لَوْلَا
اجْتَبَيْتَهَاۗ قُلْ اِنَّمَآ اَتَّبِعُ مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ مِنْ رَّبِّيْۗ
هٰذَا بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Wa iżā lam ta'tihim bi'āyatin qālū lau
lajtabaitahā, qul inamā attabi‘u mā yūḥā ilayya mir rabbī, hāżā baṣā'iru mir
rabbikum wa hudaw wa raḥmatul liqaumiy yu'minūn(a).
Jika engkau (Nabi Muhammad) tidak membacakan
satu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak engkau buat sendiri
ayat itu?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan
Tuhanku kepadaku. (Al-Qur’an) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu,
petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
204.
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Wa iżā quri'al-qur'ānu fastami‘ū lahū wa
anṣitū la‘allakum turḥamūn(a).
Jika dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah (dengan
saksama) dan diamlah agar kamu dirahmati.
205.
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً
وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ
الْغٰفِلِيْنَ
Ważkur rabbaka fī nafsika taḍarru‘aw wa
khīfataw wa dūnal-jahri minal-qauli bil-guduwwi wal-āṣāli wa lā takum
minal-gāfilīn(a).
Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah
hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.
206.
اِنَّ الَّذِيْنَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ
عِبَادَتِهٖ وَيُسَبِّحُوْنَهٗ وَلَهٗ يَسْجُدُوْنَ ࣖ ۩
Innal-lażīna ‘inda rabbika lā yastakbirūna ‘an
‘ibādatihī wa yusabbiḥūnahū wa lahū yasjudūn(a).
Sesungguhnya malaikat yang ada di sisi Tuhanmu
tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya dan mereka menyucikan-Nya.
Hanya kepada-Nya mereka bersujud.