Surat Ar Rum
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ
1.
الۤمّۤ ۚ
Alif lām mīm.
Alif Lām Mīm.
2.
غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ
Gulibatir-rūm(u).
Bangsa Romawi telah dikalahkan,
3.
فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ
سَيَغْلِبُوْنَۙ
Fī adnal-arḍi wa hum mim ba‘di galabihim sayaglibūn(a).
di negeri yang terdekatdan mereka setelah kekalahannya itu akan
menang
4.
فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ
بَعْدُ ۗوَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ
Fī biḍ‘i sinīn(a), lillāhil-amru min qablu wa mim ba‘d(u), wa
yauma'iżiy yafraḥul-mu'minūn(a).
dalam beberapa tahun (lagi). Milik Allahlah urusan sebelum dan
setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah
orang-orang mukmin
5.
بِنَصْرِ اللّٰهِ ۗيَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ
الرَّحِيْمُ
Binaṣrillāh(i), yanṣuru may yasyā'(u), wa
huwal-‘azīzur-raḥīm(u).
karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki.
Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
6.
وَعْدَ اللّٰهِ ۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَهٗ وَلٰكِنَّ
اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Wa‘dallāh(i), lā yukhlifullāhu wa‘dahū wa lākinna akṡaran-nāsi
lā ya‘lamūn(a).
(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
7.
يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۖ وَهُمْ عَنِ
الْاٰخِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ
Ya‘lamūna ẓāhiram minal-ḥayātid-dun-yā, wa hum ‘anil-ākhirati
hum gāfilūn(a).
Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia,
sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.
8.
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ
مُّسَمًّىۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاۤئِ رَبِّهِمْ لَكٰفِرُوْنَ
Awalam yatafakkarū fī anfusihim, mā khalaqallāhus-samāwāti
wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musammā(n), wa inna kaṡīram
minan-nāsi biliqā'i rabbihim lakāfirūn(a).
Apakah mereka tidak berpikir tentang (kejadian) dirinya? Allah
tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali
dengan benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya banyak di antara manusia
benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.
9.
اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً
وَّاَثَارُوا الْاَرْضَ وَعَمَرُوْهَآ اَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوْهَا
وَجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۗ فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ
وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَۗ
Awalam yasīrū fil-arḍi fayanẓurū kaifa kāna ‘āqibatul-lażīna min
qablihim, kānū asyadda minhum quwwataw wa aṡārul-arḍa wa ‘amarūhā akṡara mimmā
‘amarūhā wa jā'athum rusuluhum bil-bayyināt(i), famā kānallāhu liyaẓlimahum wa
lākin kānū anfusahum yaẓlimūn(a).
Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana
kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang itu
lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta
memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. Para rasul telah
datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Allah sama sekali
tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri.
10.
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوا السُّوْۤاٰىٓ اَنْ
كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَكَانُوْا بِهَا يَسْتَهْزِءُوْنَ ࣖ
Ṡumma kāna ‘āqibatal-lażīna asā'us-sū'ā an każżabū bi'āyātillāhi
wa kānū bihā yastahzi'ūn(a).
Kemudian, kesudahan orang-orang yang berbuat jahat adalah
(balasan) yang paling buruk karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan
selalu memperolok-olokkannya.
11.
اَللّٰهُ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ ثُمَّ اِلَيْهِ
تُرْجَعُوْنَ
Allāhu yabda'ul-khalqa ṡumma yu‘īduhū ṡumma ilaihi turja‘ūn(a).
Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya
(menghidupkannya) lagi. Lalu, hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.
12.
وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُوْنَ
Wa yauma taqūmus-sā‘atu yublisul-mujrimūn(a).
Pada hari (ketika) terjadi kiamat, para pendurhaka terdiam
berputus asa.
13.
وَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ مِّنْ شُرَكَاۤىِٕهِمْ شُفَعٰۤؤُا
وَكَانُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ كٰفِرِيْنَ
Wa lam yakul lahum min syurakā'ihim syufa‘ā'u wa kānū
bisyurakā'ihim kāfirīn(a).
Tidak mungkin ada pemberi syafaat (pertolongan) bagi mereka dari
berhala-berhala yang mereka anggap sekutu Allah, bahkan mereka mengingkari
berhala-berhalanya itu.
14.
وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَفَرَّقُوْنَ
Wa yauma taqūmus-sā‘atu yauma'iżiy yatafarraqūn(a).
Pada hari (ketika) terjadi kiamat, pada hari itu, manusia
terpecah-pecah (dalam kelompok).
15.
فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَهُمْ فِيْ
رَوْضَةٍ يُّحْبَرُوْنَ
Fa ammal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fahum fī rauḍatiy
yuḥbarūn(a).
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka
bergembira di dalam taman (surga).
16.
وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا
وَلِقَاۤئِ الْاٰخِرَةِ فَاُولٰۤىِٕكَ فِى الْعَذَابِ مُحْضَرُوْنَ
Wa ammal-lażīna kafarū wa każżabū bi'āyātinā wa liqā'il-ākhirati
fa'ulā'ika fil-‘ażābi muḥḍarūn(a).
Adapun orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami
serta (mengingkari) pertemuan (hari) Akhirat, mereka itu tetap berada di dalam
azab (neraka).
17.
فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ
Fa subḥānallāhi ḥīna tumsūna wa ḥīna tuṣbiḥūn(a).
Bertasbihlah kepada Allah ketika kamu berada pada waktu senja
dan waktu pagi.
18.
وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَعَشِيًّا
وَّحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ
Wa lahul-ḥamdu fis-samāwāti wal-arḍi wa ‘asyiyyaw wa ḥīna
tuẓhirūn(a).
Segala puji hanya bagi-Nya di langit dan di bumi, pada waktu
petang dan pada saat kamu berada pada waktu siang.
19.
يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ
الْحَيِّ وَيُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۗوَكَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ ࣖ
Yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi
wa yuḥyil-arḍa ba‘da mautihā, wa każālika tukhrajūn(a).
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang
mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti
itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).
20.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَآ
اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ
Wa min āyātihī an khalaqakum min turābin ṡumma iżā antum
basyarun tantasyirūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia
menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu
(menjadi) manusia yang bertebaran.
21.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ
اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً
ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājal litaskunū
ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddataw wa raḥmah(tan), inna fī żālika la'āyātil
liqaumiy yatafakkarūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia
menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu
merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
22.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ
اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ
Wa min āyātihī khalqus-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfu alsinatikum
wa alwānikum, inna fī żālika la'āyātil lil-‘ālimīn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit
dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang
berilmu.
23.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ
وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ
يَّسْمَعُوْنَ
Wa min āyātihī manāmukum bil-laili wan-nahāri wabtigā'ukum min
faḍlih(ī), inna fī żālika la'āyātil liqaumiy yasma‘ūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah
tidurmu pada waktu malam dan siang serta usahamu mencari sebagian dari
karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi kaum yang mendengarkan.
24.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا
وَّيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَيُحْيٖ بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
Wa min āyātihī yurīkumul-barqa khaufaw wa ṭama‘aw wa yunazzilu
minas-samā'i mā'an fa yuḥyī bihil-arḍa ba‘da mautihā, inna fī żālika la'āyātil
liqaumiy ya‘qilūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah bahwa
Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan.
Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi
setelah mati (kering). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.
25.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ تَقُوْمَ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُ
بِاَمْرِهٖۗ ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةًۖ مِّنَ الْاَرْضِ اِذَآ اَنْتُمْ
تَخْرُجُوْنَ
Wa min āyātihī an taqūmas-samā'u wal-arḍu bi'amrih(ī), ṡumma iżā
da‘ākum da‘watam minal-arḍi iżā antum takhrujūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa berdirinya
langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian, apabila Dia memanggil kamu (pada
hari Kiamat) dengan sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari
kubur).
26.
وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلٌّ لَّهٗ قٰنِتُوْنَ
Wa lahū man fis-samāwāti wal-arḍ(i), kullul lahū qānitūn(a).
Milik-Nyalah siapa yang ada di langit dan di bumi. Semuanya
tunduk kepada-Nya.
27.
وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَهُوَ
اَهْوَنُ عَلَيْهِۗ وَلَهُ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ
وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ
Wa huwal-lażī yabda'ul-khalqa ṡumma yu‘īduhū wa huwa ahwanu
‘alaih(i), wa lahul-maṡalul-a‘lā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa
huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).
Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya
(menghidupkannya) lagi (setelah kehancurannya). (Hal) Itu lebih mudah bagi-Nya.
Milik-Nyalah sifat yang tertinggi di langit dan di bumi. Dialah Yang
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
28.
ضَرَبَ لَكُمْ مَّثَلًا مِّنْ اَنْفُسِكُمْۗ هَلْ لَّكُمْ مِّنْ
مَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ مِّنْ شُرَكَاۤءَ فِيْ مَا رَزَقْنٰكُمْ فَاَنْتُمْ
فِيْهِ سَوَاۤءٌ تَخَافُوْنَهُمْ كَخِيْفَتِكُمْ اَنْفُسَكُمْۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ
الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
Ḍaraba lakum maṡalam min anfusikum, hal lakum mim mā malakat
aimānukum min syurakā'a fī mā razaqnākum fa'antum fīhi sawā'un takhāfūnahum
kakhīfatikum anfusakum, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya‘qilūn(a).
Dia membuat perumpamaan bagimu dari dirimu sendiri. Apakah (kamu
rela jika) ada di antara hamba sahaya yang kamu miliki menjadi sekutu bagimu
dalam (kepemilikan) rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu, sehingga kamu
menjadi setara dengan mereka dalam hal ini? Kamu takut kepada mereka
sebagaimana kamu takut kepada sesamamu. Seperti itulah Kami menjelaskan
tanda-tanda itu bagi kaum yang mengerti.
29.
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ بِغَيْرِ
عِلْمٍۗ فَمَنْ يَّهْدِيْ مَنْ اَضَلَّ اللّٰهُ ۗوَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ
Balittaba‘al-lażīna ẓalamū ahwā'ahum bigairi ‘ilm(in), famay
yahdī man aḍallallāh(u), wa mā lahum min nāṣirīn(a).
Akan tetapi, orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya
tanpa (berdasarkan) ilmu. Maka, siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada
orang yang telah disesatkan Allah? Tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.
30.
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ
الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ
الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Fa aqim wajhaka lid-dīni ḥanīfā(n), fiṭratallāhil-latī
faṭaran-nāsa ‘alaihā, lā tabdīla likhalqillāh(i), żālikad-dīnul-qayyim(u), wa
lākinna akṡaran-nāsi lā ya‘lamūn(a).
Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam
sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah)
itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang
lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
31.
۞ مُنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ
وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ
Munībīna ilaihi wattaqūhu wa aqīmuṣ-ṣalāta wa lā takūnū
minal-musyrikīn(a).
(Hadapkanlah wajahmu) dalam keadaan kembali (bertobat)
kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, laksanakanlah salat, dan janganlah kamu
termasuk orang-orang musyrik,
32.
مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۗ كُلُّ
حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
Minal-lażīna farraqū dīnahum wa kānū syiya‘ā(n), kullu ḥizbim
bimā ladaihim fariḥūn(a).
(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga
menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada
pada mereka.
33.
وَاِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُّنِيْبِيْنَ
اِلَيْهِ ثُمَّ اِذَآ اَذَاقَهُمْ مِّنْهُ رَحْمَةً اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ
بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُوْنَۙ
Wa iżā massan-nāsa ḍurrun da‘au rabbahum munībīna ilaihi ṡumma
iżā ażāqahum minhu raḥmatan iżā farīqum minhum birabbihim yusyrikūn(a).
Apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru
Tuhannya dengan kembali (bertobat) kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia memberikan
sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan
Tuhannya.
34.
لِيَكْفُرُوْا بِمَآ اٰتَيْنٰهُمْۗ فَتَمَتَّعُوْاۗ فَسَوْفَ
تَعْلَمُوْنَ
Liyakfurū bimā ātaināhum, fatamatta‘ū, fasaufa ta‘lamūn(a).
Biarkan mereka (orang-orang musyrik) mengingkari apa yang telah
Kami anugerahkan kepada mereka. Bersenang-senanglah, kelak kamu akan mengetahui
(akibat buruk perbuatanmu),
35.
اَمْ اَنْزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطٰنًا فَهُوَ يَتَكَلَّمُ بِمَا
كَانُوْا بِهٖ يُشْرِكُوْنَ
Am anzalnā ‘alaihim sulṭānan fahuwa yatakallamu bimā kānū bihī
yusyrikūn(a).
atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka hujah yang
menjelaskan (membenarkan) apa yang selalu mereka persekutukan dengan-Nya?
36.
وَاِذَآ اَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوْا بِهَاۗ وَاِنْ
تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ اِذَا هُمْ يَقْنَطُوْنَ
Wa iżā ażaqnan-nāsa raḥmatan fariḥū bihā, wa in tuṣibhum
sayyi'atum bimā qaddamat aidīhim iżā hum yaqnaṭūn(a).
Apabila Kami mencicipkan suatu rahmat kepada manusia, mereka
gembira karenanya. (Sebaliknya,) apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya)
karena kesalahan mereka sendiri, seketika itu mereka berputus asa.
37.
اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ
يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
Awalam yarau annallāha yabsuṭur-rizqa limay yasyā'u wa
yaqdir(u), inna fī żālika la'āyātil liqaumiy yu'minūn(a).
Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah
melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi(-nya).
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang beriman.
38.
فَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ
السَّبِيْلِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللّٰهِ
ۖوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Fa āti żal-qurbā ḥaqqahū wal-miskīna wabnas-sabīl(i), żālika
khairul lil-lażīna yurīdūna wajhallāh(i), wa ulā'ika humul-mufliḥūn(a).
Oleh karena itu, beri kerabat dekat haknya, juga orang miskin,
dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang
mencari keridaan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
39.
وَمَآ اٰتَيْتُمْ مِّنْ رِّبًا لِّيَرْبُوَا۟ فِيْٓ اَمْوَالِ
النَّاسِ فَلَا يَرْبُوْا عِنْدَ اللّٰهِ ۚوَمَآ اٰتَيْتُمْ مِّنْ زَكٰوةٍ
تُرِيْدُوْنَ وَجْهَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُضْعِفُوْنَ
Wa mā ātaitum mir ribal liyarbuwa fī amwālin-nāsi falā yarbū
‘indallāh(i), wa mā ātaitum min zakātin turīdūna wajhallāhi fa'ulā'ika
humul-muḍ‘ifūn(a).
Riba yang kamu berikan agar berkembang pada harta orang lain,
tidaklah berkembang dalam pandangan Allah. Adapun zakat yang kamu berikan
dengan maksud memperoleh keridaan Allah, (berarti) merekalah orang-orang yang
melipatgandakan (pahalanya).
40.
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ
ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ هَلْ مِنْ شُرَكَاۤىِٕكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰلِكُمْ
مِّنْ شَيْءٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ࣖ
Allāhul-lażī khalaqakum ṡumma razaqakum ṡumma yumītukum ṡumma
yuḥyīkum, hal min syurakā'ikum may yaf‘alu min żālikum min syai'(in), subḥānahū
wa ta‘ālā ‘ammā yusyrikūn(a).
Allahlah yang menciptakanmu, kemudian menganugerahkanmu rezeki,
kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara
mereka yang kamu persekutukan (dengan Allah) yang dapat berbuat sesuatu yang
demikian itu? Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
41.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ
اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُوْنَ
Żaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi
liyużīqahum ba‘ḍal-lażī ‘amilū la‘allahum yarji‘ūn(a).
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan
tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari
(akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
42.
قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُۗ كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ
Qul sīrū fil-arḍi fanẓurū kaifa kāna ‘āqibatul-lażīna min
qabl(u), kāna akṡaruhum musyrikīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah
bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang
musyrik.”
43.
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ الْقَيِّمِ مِنْ قَبْلِ اَنْ
يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ يَوْمَىِٕذٍ يَّصَّدَّعُوْنَ
Fa'aqim lid-dīnil-qayyimi min qabli ay ya'tiya yaumul lā maradda
lahū minallāhi yauma'iżiy yaṣṣadda‘ūn(a).
Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus
(Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (kiamat) yang tidak dapat ditolak.
Pada hari itu mereka terpisah-pisah.
44.
مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۚ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا
فَلِاَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُوْنَۙ
Man kafara fa ‘alaihi kufruh(ū), wa man ‘amila ṣāliḥan
fali'anfusihim yamhadūn(a).
Siapa yang kufur, maka dia sendirilah yang menanggung (akibat)
kekufurannya. Siapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan untuk
diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan)
45.
لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْ
فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
Liyajziyal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti min faḍlih(ī),
innahū lā yuḥibbul-kāfirīn(a).
agar Allah menganugerahkan balasan (pahala) dari karunia-Nya kepada
orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai
orang-orang kafir.
46.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ يُّرْسِلَ الرِّيٰحَ مُبَشِّرٰتٍ
وَّلِيُذِيْقَكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِاَمْرِهٖ
وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Wa min āyātihī ay yursilar-riyāḥa mubasysyirātiw wa liyużīqakum
mir raḥmatihī wa litajriyal-fulka bi'amrihī wa litabtagū min faḍlihī wa
la‘allakum tasykurūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia
mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira agar kamu merasakan sebagian
dari rahmat-Nya, agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya, agar kamu dapat
mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.
47.
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا اِلٰى قَوْمِهِمْ
فَجَاۤءُوْهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْاۗ
وَكَانَ حَقًّاۖ عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ
Wa laqad arsalnā min qablika rusulan ilā qaumihim fajā'ūhum
bil-bayyināti fantaqamnā minal-lażīna ajramū, wa kāna ḥaqqan ‘alainā
naṣrul-mu'minīn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus sebelum engkau (Nabi
Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya. Mereka datang kepadanya dengan
membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan
terhadap orang-orang yang durhaka. Merupakan tanggung jawab Kami menolong
orang-orang mukmin.
48.
اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا
فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى
الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ
عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ
Allāhul-lażī yursilur-riyāḥa fatuṡīru saḥāban fayabsuṭuhū
fis-samā'i kaifa yasyā'u wa yaj‘aluhū kisafan fataral-wadqa yakhruju min
khilālih(ī), fa'iżā aṣāba bihī may yasyā'u min ‘ibādihī iżā hum
yastabsyirūn(a).
Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan,
kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya
dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari
celah-celahnya. Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira.
49.
وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِّنْ
قَبْلِهٖ لَمُبْلِسِيْنَۚ
Wa in kānū min qabli ay yunazzala ‘alaihim min qablihī
lamublisīn(a).
Padahal, sebelum hujan diturunkan, mereka benar-benar telah
berputus asa.
50.
فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثٰرِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِ الْاَرْضَ
بَعْدَ مَوْتِهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتٰىۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيْرٌ
Fanẓur ilā āṡāri raḥmatillāhi kaifa yuḥyil-arḍa ba‘da mautihā,
inna żālika lamuḥyil-mautā, wa huwa ‘alā kulli syai'in qadīr(un).
Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia
menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sesungguhnya (Zat yang melakukan) itu
pasti berkuasa menghidupkan orang yang telah mati. Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu.
51.
وَلَىِٕنْ اَرْسَلْنَا رِيْحًا فَرَاَوْهُ مُصْفَرًّا لَّظَلُّوْا
مِنْۢ بَعْدِهٖ يَكْفُرُوْنَ
Wa la'in arsalnā rīḥan fara'auhu muṣfarral laẓallū mim ba‘dihī
yakfurūn(a).
Sungguh, jika Kami mengirimkan angin, lalu mereka melihat
(tumbuh-tumbuhan) itu menguning (kering dan rusak), niscaya setelah itu mereka
tetap berbuat ingkar.
52.
فَاِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتٰى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ
الدُّعَاۤءَ اِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِيْنَ
Fa innaka lā tusmi‘ul-mautā wa lā tusmi‘uṣ-ṣummad-du‘ā'a iżā
wallau mudbirīn(a).
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak akan sanggup
menjadikan orang-orang yang mati dan orang-orang yang tuli dapat mendengar
seruan apabila mereka berpaling ke belakang.
53.
وَمَآ اَنْتَ بِهٰدِ الْعُمْيِ عَنْ ضَلٰلَتِهِمْۗ اِنْ تُسْمِعُ
اِلَّا مَنْ يُّؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا فَهُمْ مُّسْلِمُوْنَ ࣖ
Wa mā anta bihādil-‘umyi ‘an ḍalālatihim, in tusmi‘u illā may
yu'minu bi'āyātinā fahum muslimūn(a).
Engkau bukanlah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang buta
(mata hatinya) dari kesesatannya. Engkau tidak dapat menjadikan (seorang pun)
mendengar, kecuali orang yang beriman pada ayat-ayat Kami dan mereka berserah
diri.
54.
۞ اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ
بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً
ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
Allāhul-lażī khalaqakum min ḍa‘fin ṡumma ja‘ala mim ba‘di ḍa‘fin
quwwatan ṡumma ja‘ala mim ba‘di quwwatin ḍa‘faw wa syaibah(tan), yakhluqu mā
yasyā'(u), wa huwal-‘alīmul-qadīr(u).
Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian
Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah
(kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia
kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.
55.
وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ەۙ مَا
لَبِثُوْا غَيْرَ سَاعَةٍ ۗ كَذٰلِكَ كَانُوْا يُؤْفَكُوْنَ
Wa yauma taqūmus-sā‘atu yuqsimul-mujrimūn(a), mā labiṡū gaira
sā‘ah(tin), każālika kānū yu'fakūn(a).
Pada hari (ketika) terjadi kiamat, para pendurhaka (kafir)
bersumpah bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja). Begitulah
dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran).
56.
وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَالْاِيْمَانَ لَقَدْ
لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ فَهٰذَا يَوْمُ الْبَعْثِ
وَلٰكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Wa qālal-lażīna ūtul-‘ilma wal-īmāna laqad labiṡtum fī
kitābillāhi ilā yaumil-ba‘ṡ(i), fa hāżā yaumul-baṡi wa lākinnakum kuntum lā ta‘lamūn(a).
Orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata (kepada
orang-orang kafir), “Sungguh, kamu benar-benar telah berdiam (dalam kubur)
menurut ketetapan Allah sampai hari Kebangkitan. Maka, inilah hari Kebangkitan
itu, tetapi dahulu kamu tidak mengetahui (bahwa itu benar adanya).”
57.
فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يَنْفَعُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مَعْذِرَتُهُمْ
وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُوْنَ
Fa yauma'iżil lā yanfa‘ul-lażīna ẓalamū ma‘żiratuhum wa lā hum
yusta‘tabūn(a).
Pada hari itu tidak berguna (lagi) dalih (dan permintaan maaf)
orang-orang yang zalim dan mereka tidak pula diberi kesempatan untuk bertobat
lagi.
58.
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ
مَثَلٍۗ وَلَىِٕنْ جِئْتَهُمْ بِاٰيَةٍ لَّيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ
اَنْتُمْ اِلَّا مُبْطِلُوْنَ
Wa laqad ḍarabnā lin-nāsi fī hāżal-qur'āni min kulli maṡal(in),
wa la'in ji'tahum bi'āyatil layaqūlannal-lażīna kafarū in antum illā
mubṭilūn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah menjelaskan dalam Al-Qur’an ini
segala macam perumpamaan kepada manusia. Sungguh, jika engkau membawa suatu
ayat kepada mereka, pastilah orang-orang kafir itu akan berkata, “Kamu hanyalah
pembuat kepalsuan belaka.”
59.
كَذٰلِكَ يَطْبَعُ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِ الَّذِيْنَ لَا
يَعْلَمُوْنَ
Każālika yaṭba‘ullāhu ‘alā qulūbil-lażīna lā ya‘lamūn(a).
Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak (mau)
mengetahui.
60.
فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ
الَّذِيْنَ لَا يُوْقِنُوْنَ ࣖ
Faṣbir inna wa‘dallāhi ḥaqquw wa lā yastakhiffannakal-lażīna lā
yūqinūn(a).
Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad)! Sesungguhnya janji
Allah itu benar. Jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran
ayat-ayat Allah) itu membuat engkau bersedih.