Surat Saba'
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيْمِ
1.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى
الْاَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِى الْاٰخِرَةِۗ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ
Al-ḥamdu lillāhil-lażī lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa
lahul-ḥamdu fil-ākhirah(ti), wa huwal-ḥakīmul-khabīr(u).
Segala puji bagi Allah yang memiliki segala yang di langit dan
yang di bumi serta bagi-Nya segala puji di akhirat. Dialah Yang Mahabijaksana
lagi Mahateliti.
2.
يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا
يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ الرَّحِيْمُ
الْغَفُوْرُ
Ya‘lamu mā yaliju fil-arḍi wa mā yakhruju minhā wa mā yanzilu
minas-samā'i wa mā ya‘ruju fīhā, wa huwar-raḥīmul-gafūr(u).
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar
darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dialah Yang
Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.
3.
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَأْتِيْنَا السَّاعَةُ ۗقُلْ
بَلٰى وَرَبِّيْ لَتَأْتِيَنَّكُمْۙ عٰلِمِ الْغَيْبِۙ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ
مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَلَآ اَصْغَرُ مِنْ
ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرُ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍۙ
Wa qālal-lażīna kafarū lā ta'tīnas-sā‘ah(tu), qul balā wa rabbī
lata'tiyannakum, ‘ālimul-gaib(i), lā ya‘zubu ‘anhu miṡqālu żarratin
fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa lā aṣgaru min żālika wa lā akbaru illā fī
kitābim mubīn(in).
Orang-orang yang kufur berkata, “Hari Kiamat itu tidak akan
datang kepada kami.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Pasti datang. Demi Tuhanku
yang mengetahui yang gaib, kiamat itu pasti mendatangi kamu. Tidak ada yang
tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat atom, baik yang di langit maupun yang di
bumi, yang lebih kecil daripada itu atau yang lebih besar, kecuali semuanya ada
dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).”
4.
لِّيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ
اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
Liyajziyal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt(i), ulā'ika lahum
magfiratuw wa rizqun karīm(un).
Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan
beramal saleh. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh ampunan dan rezeki
yang mulia.
5.
وَالَّذِيْنَ سَعَوْ فِيْٓ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيْنَ اُولٰۤىِٕكَ
لَهُمْ عَذَابٌ مِّنْ رِّجْزٍ اَلِيْمٌ
Wal-lażīna sa‘au fī āyātinā mu‘ājizīna ulā'ika lahum ‘ażābum mir
rijzin alīm(un).
Orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami
dengan anggapan dapat melemahkan (Kami), mereka itulah orang-orang yang
memperoleh azab, yaitu siksa yang sangat pedih.
6.
وَيَرَى الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ
اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّۙ وَيَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ
الْحَمِيْدِ
Wa yaral-lażīna ūtul-‘ilmal-lażī unzila ilaika mir rabbika
huwal-ḥaqq(a), wa yahdī ilā ṣirāṭil-‘azīzil-ḥamīd(i).
Orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa (wahyu) yang
diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi
petunjuk ke jalan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.
7.
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا هَلْ نَدُلُّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ
يُّنَبِّئُكُمْ اِذَا مُزِّقْتُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍۙ اِنَّكُمْ لَفِيْ خَلْقٍ
جَدِيْدٍۚ
Wa qālal-lażīna kafarū hal nadullukum ‘alā rajuliy yunabbi'ukum
iżā muzziqtum kulla mumazzaq(in), innakum lafī khalqin jadīd(in).
Orang-orang yang kufur berkata (kepada teman-temannya), “Maukah
kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki (Nabi Muhammad) yang memberitakan
kepadamu bahwa apabila badanmu telah dihancurkan sehancur-hancurnya,
sesungguhnya kamu pasti (akan dibangkitkan kembali) dalam ciptaan yang baru.
8.
اَفْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَمْ بِهٖ جِنَّةٌ ۗبَلِ
الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ فِى الْعَذَابِ وَالضَّلٰلِ
الْبَعِيْدِ
Aftarā ‘alallāhi każiban am bihī jinnah(tun), balil-lażīna lā
yu'minūna bil-ākhirati fil-‘ażābi waḍ-ḍalālil-ba‘īd(i).
Apakah dia mengada-adakan kebohongan besar terhadap Allah atau
gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tak beriman kepada akhirat itu dalam
siksaan dan kesesatan yang jauh.
9.
اَفَلَمْ يَرَوْا اِلٰى مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنْ نَّشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الْاَرْضَ اَوْ
نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِّنَ السَّمَاۤءِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً
لِّكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيْبٍ ࣖ
Afalam yarau ilā mā baina aidīhim wa mā khalfahum minas-samā'i
wal-arḍ(i), in nasya' nakhsif bihimul-arḍa au nusqiṭ ‘alaihim kisafam
minas-samā'(i), inna fī żālika la'āyatal likulli ‘abdim munīb(in).
Tidakkah mereka memperhatikan langit dan bumi yang ada di
hadapan dan di belakang mereka? Jika menghendakinya, niscaya Kami membenamkan
mereka di bumi atau menjatuhkan kepingan-kepingan (benda-benda angkasa) dari
langit di atas mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap hamba yang kembali
(kepada-Nya).
10.
۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًاۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ
مَعَهٗ وَالطَّيْرَ ۚوَاَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْدَۙ
Wa laqad ātainā dāwūda minnā faḍlā(n), yā jibālu awwibī ma‘ahū
waṭ-ṭair(a), wa alannā lahul-ḥadīd(a).
Sungguh, benar-benar telah Kami anugerahkan kepada Daud karunia
dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung,
bertasbihlah berulang kali bersama Daud!” Kami telah melunakkan besi untuknya.
11.
اَنِ اعْمَلْ سٰبِغٰتٍ وَّقَدِّرْ فِى السَّرْدِ وَاعْمَلُوْا
صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Ani‘mal sābigātiw wa qaddir fis-sardi wa‘malū ṣāliḥā(n), innī
bimā ta‘malūna baṣīr(un).
Buatlah baju-baju besi besar dan ukurlah anyamannya serta
kerjakanlah amal saleh. Sesungguhnya Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
12.
وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ
وَاَسَلْنَا لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ
يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ
عَذَابِ السَّعِيْرِ
Wa lisulaimānar-rīḥa guduwwuhā syahruw wa rawāḥuhā syahr(un), wa
asalnā lahū ‘ainal-qiṭr(i), wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi'iżni
rabbih(ī), wa may yazig minhum ‘an amrinā nużiqhu min ‘ażābis-sa‘īr(i).
Bagi Sulaiman (Kami tundukkan) angin yang (jarak tempuh)
perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya
pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) serta Kami alirkan cairan
tembaga baginya. Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin
Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami
rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).
13.
يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ
وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا
ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
Ya‘malūna lahū mā yasyā'u mim maḥārība wa tamāṡīla wa jifānin
kal-jawābi wa qudūrir-rāsiyāt(in), i‘malū āla dāwūda syukrā(n), wa qalīlum min
‘ibādiyasy-syakūr(u).
Mereka (para jin) selalu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan
kehendaknya. Di antaranya (membuat) gedung-gedung tinggi, patung-patung,
piring-piring (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas
tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Sedikit sekali dari
hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.
14.
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلٰى
مَوْتِهٖٓ اِلَّا دَاۤبَّةُ الْاَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَاَتَهٗ ۚفَلَمَّا خَرَّ
تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ اَنْ لَّوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوْا
فِى الْعَذَابِ الْمُهِيْنِۗ
Falammā qaḍainā ‘alaihil-mauta mā dallahum ‘alā mautihī illā
dābbatul-arḍi ta'kulu minsa'atah(ū), falammā kharra tabayyanatil-jinnu allau
kānū ya‘lamūnal-gaiba mā labiṡū fil-‘ażābil-muhīn(i).
Maka, ketika telah Kami tetapkan kematian (Sulaiman), tidak ada
yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu, kecuali rayap yang memakan
tongkatnya. Ketika dia telah tersungkur, jin menyadari bahwa sekiranya
mengetahui yang gaib, tentu mereka tidak berada dalam siksa yang menghinakan.
15.
لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚجَنَّتٰنِ عَنْ
يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ
ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ
Laqad kāna lisaba'in fī maskanihim āyah(tun), jannatāni ‘ay
yamīniw wa syimāl(in), kulū mir rizqi rabbikum wasykurū lah(ū), baldatun
ṭayyibatuw wa rabbun gafūr(un).
Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran
dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah
kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang
dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri
yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.”
16.
فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ
وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ
وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ
Fa a‘raḍū fa arsalnā ‘alaihim sailal-‘arimi wa baddalnāhum
bijannataihim jannataini żawātai ukulin khamṭiw wa aṡliw wa syai'im min sidrin
qalīl(in).
Akan tetapi, mereka berpaling sehingga Kami datangkan kepada
mereka banjir besar624]) dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun
yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon asal (sejenis cemara) dan
sedikit pohon sidir (bidara).
17.
ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِمَا كَفَرُوْاۗ وَهَلْ نُجٰزِيْٓ اِلَّا
الْكَفُوْرَ
Żālika jazaināhum bimā kafarū, wa hal nujāzī illal-kafūr(a).
Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafirannya. Kami tidak
menjatuhkan azab, kecuali hanya kepada orang-orang yang sangat kufur.
18.
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِيْ بٰرَكْنَا
فِيْهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَّقَدَّرْنَا فِيْهَا السَّيْرَۗ سِيْرُوْا فِيْهَا
لَيَالِيَ وَاَيَّامًا اٰمِنِيْنَ
Wa ja‘alnā bainahum wa bainal-qural-latī bāraknā fīhā quran
ẓāhirataw wa qaddarnā fihas-sair(a), sīrū fīhā layāliya wa ayyāman āminīn(a).
Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang Kami berkahi
(Syam) beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri
itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di negeri-negeri itu pada malam dan
siang hari dengan aman.
19.
فَقَالُوْا رَبَّنَا بٰعِدْ بَيْنَ اَسْفَارِنَا وَظَلَمُوْٓا
اَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَ وَمَزَّقْنٰهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍۗ اِنَّ
فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
Fa qālū rabbanā bā‘id baina asfārinā wa ẓalamū anfusahum fa
ja‘alnāhum aḥādīṡa wa mazzaqnāhum kulla mumazzaq(in), inna fī żālika la'āyātil
likulli ṣabbārin syakūr(in).
Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan
kami,” dan (mereka) menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan
Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap
orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur.
20.
وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ
اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Wa laqad ṣaddaqa ‘alaihim iblīsu ẓannahū fattaba‘ūhu illā
farīqam minal-mu'minīn(a).
Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap
kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari
orang-orang mukmin.
21.
وَمَا كَانَ لَهٗ عَلَيْهِمْ مِّنْ سُلْطَانٍ اِلَّا لِنَعْلَمَ
مَنْ يُّؤْمِنُ بِالْاٰخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِيْ شَكٍّ ۗوَرَبُّكَ عَلٰى
كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌ ࣖ
Wa mā kāna lahū ‘alaihim min sulṭānin illā lina‘lama may yu'minu
bil-ākhirati mimman huwa minhā fī syakk(in), wa rabbuka ‘alā kulli syai'in
ḥafīẓ(un).
Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar Kami
dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu
tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.
22.
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۚ لَا
يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ
فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ
Qulid‘ul-lażīna za‘amtum min dūnillāh(i), lā yamlikūna miṡqāla
żarratin fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa mā lahum fīhimā min syirkiw wa mā lahū
minhum min ẓahīr(in).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Serulah mereka yang kamu anggap
(sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah
pun di langit dan di bumi. Mereka juga sama sekali tidak mempunyai peran serta
dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi
pembantu bagi-Nya.”
23.
وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ لَهٗ
ۗحَتّٰىٓ اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا مَاذَاۙ قَالَ رَبُّكُمْۗ
قَالُوا الْحَقَّۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ
Wa lā tanfa‘usy-syafā‘atu ‘indahū illā liman ażina lah(ū), ḥattā
iżā fuzzi‘a ‘an qulūbihim qālū māżā, qāla rabbukum, qālul-ḥaqq(a), wa
huwal-‘aliyyul-kabīr(u).
Tidaklah berguna syafaat (pertolongan) di sisi-Nya, kecuali bagi
orang yang diizinkan-Nya sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari
hatinya, mereka berkata, “Apa yang difirmankan Tuhanmu?” Mereka menjawab,
“Kebenaran.” Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
24.
۞ قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ
اللّٰهُ ۙوَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Qul may yarzuqukum minas-samāwāti wal-arḍ(i), qulillāh(u), wa
innā au iyyākum la‘alā hudan au fī ḍalālim mubīn(in).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menganugerahkan
rezeki kepadamu dari langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Sesungguhnya kami
atau kamu (orang-orang musyrik) benar-benar berada di dalam petunjuk atau dalam
kesesatan yang nyata.
25.
قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ
عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Qul lā tus'alūna ‘ammā ajramnā wa lā nus'alu ‘ammā ta‘malūn(a).
Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang kami kerjakan dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa
yang kamu kerjakan.”
26.
قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا
بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ
Qul yajma‘u bainanā rabbunā ṡumma yaftaḥu bainanā bil-ḥaqq(i),
wa huwal-fattāḥul-‘alīm(u).
Katakanlah, “Tuhan kita (pada hari Kiamat) akan mengumpulkan
kita, kemudian memutuskan (perkara) di antara kita dengan hak. Dialah Yang Maha
Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”
27.
قُلْ اَرُوْنِيَ الَّذِيْنَ اَلْحَقْتُمْ بِهٖ شُرَكَاۤءَ كَلَّا
ۗبَلْ هُوَ اللّٰهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Qul arūniyal-lażīna alḥaqtum bihī syurakā'a kallā, bal
huwallāhul-‘azīzul-ḥakīm(u).
Katakanlah, “Perlihatkanlah kepadaku (sesembahan) yang kamu sertakan
dengan-Nya sebagai sekutu-sekutu. Tidaklah (sama). Akan tetapi, Dialah Allah
Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
28.
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا
وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Wa mā arsalnāka illā kāffatal lin-nāsi basyīraw wa nażīraw wa
lākinna akṡaran-nāsi lā ya‘lamūn(a).
Tidaklah Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali kepada
seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Akan
tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
29.
وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).
Mereka berkata, “Kapankah (datangnya) janji ini jika kamu
orang-orang benar?”
30.
قُلْ لَّكُمْ مِّيْعَادُ يَوْمٍ لَّا تَسْتَأْخِرُوْنَ عَنْهُ
سَاعَةً وَّلَا تَسْتَقْدِمُوْنَ ࣖ
Qul lakum mī‘ādu yaumil lā tasta'khirūna ‘anhu sā‘ataw wa lā
tastaqdimūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bagimu ada hari yang telah
dijanjikan (hari Kiamat). Kamu tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan
tidak pula percepatan.”
31.
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ بِهٰذَا الْقُرْاٰنِ
وَلَا بِالَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِۗ وَلَوْ تَرٰىٓ اِذِ الظّٰلِمُوْنَ
مَوْقُوْفُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْۖ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضِ ِۨالْقَوْلَۚ
يَقُوْلُ الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا لَوْلَآ اَنْتُمْ
لَكُنَّا مُؤْمِنِيْنَ
Wa qālal-lażīna kafarū lan nu'mina bihāżal-qur'āni wa lā
bil-lażī baina yadaih(i), wa lau tarā iżiẓ-ẓālimūna mauqūfūna ‘inda rabbihim,
yarji‘u ba‘ḍuhum ilā ba‘ḍinil-qaul(a), yaqūlul-lażīnastuḍ‘ifū
lil-lażīnastakbarū lau lā antum lakunnā mu'minīn(a).
Orang-orang yang kufur berkata, “Kami tidak akan pernah beriman
kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada (kitab) yang sebelumnya.”
(Alangkah mengerikan) jika engkau (Nabi Muhammad) melihat orang-orang zalim
ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (saat) sebagian mereka mengembalikan
perkataan kepada sebagian yang lain (saling berbantah). (Para pengikut) yang
dianggap lemah berkata kepada (para pemimpin) yang menyombongkan diri,
“Seandainya bukan karenamu, niscaya kami menjadi orang-orang mukmin.”
32.
قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْٓا
اَنَحْنُ صَدَدْنٰكُمْ عَنِ الْهُدٰى بَعْدَ اِذْ جَاۤءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ
مُّجْرِمِيْنَ
Qālal-lażīnastakbarū lil-lażīnastuḍ‘ifū anaḥnu ṣadadnākum
‘anil-hudā ba‘da iż jā'akum bal kuntum mujrimīn(a).
(Para pemimpin) yang menyombongkan diri berkata kepada (para
pengikut) yang dianggap lemah, “Kamikah yang telah menghalangimu untuk
memperoleh petunjuk setelah ia datang kepadamu? (Tidak!) Sebenarnya kamulah
para pendurhaka.”
33.
وَقَالَ الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا
بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ اِذْ تَأْمُرُوْنَنَآ اَنْ نَّكْفُرَ
بِاللّٰهِ وَنَجْعَلَ لَهٗٓ اَنْدَادًا ۗوَاَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَاَوُا
الْعَذَابَۗ وَجَعَلْنَا الْاَغْلٰلَ فِيْٓ اَعْنَاقِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ هَلْ
يُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Wa qālal-lażīnastuḍ‘ifū lil-lażīnastakbarū bal makrul-laili
wan-nahāri iż ta'murūnanā an nakfura billāhi wa naj‘ala lahū andādā(n), wa
asarrun-nadāmata lammā ra'awul-‘ażāb(a), wa ja‘alnal-aglāla fī a‘nāqil-lażīna
kafarū, hal yujzauna illā mā kānū ya‘malūn(a).
Orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang
menyombongkan diri, “(Tidak!) Sebenarnya tipu daya(-mu) pada waktu malam dan
siang (yang menghalangi kami) ketika kamu menyuruh kami agar kufur kepada Allah
dan menjadikan tandingan-tandingan bagi-Nya.” (Kedua kelompok itu)
menyembunyikan penyesalan ketika melihat azab dan Kami pasangkan belenggu di
leher orang-orang yang kufur. Bukankah mereka (tidak) akan dibalas, melainkan
(sesuai dengan) apa yang telah mereka kerjakan?
34.
وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَالَ
مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
Wa mā arsalnā min qaryatim min nażīrin illā qāla mutrafūhā, innā
bimā ursiltum bihī kāfirūn(a).
Tidaklah Kami utus pemberi peringatan ke suatu negeri, kecuali
orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Sesungguhnya kami ingkar
pada kerasulanmu.”
35.
وَقَالُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۙ وَّمَا
نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ
Wa qālū naḥnu akṡaru amwālaw wa aulādā(n), wa mā naḥnu
bimu‘ażżabīn(a).
Mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak
(daripadamu) dan kami tidak akan diazab.”
36.
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ
وَيَقْدِرُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ࣖ
Qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā'u wa yaqdiru wa
lākinna akṡaran-nāsi lā ya‘lamūn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Allah melapangkan
rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan(-nya). Akan tetapi,
kebanyakan manusia tidak mengetahui(-nya).”
37.
وَمَآ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ بِالَّتِيْ
تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفٰىٓ اِلَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًاۙ
فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ جَزَاۤءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوْا وَهُمْ فِى الْغُرُفٰتِ
اٰمِنُوْنَ
Wa mā amwālukum wa lā aulādukum bil-latī tuqarribukum ‘indanā
zulfā illā man āmana wa ‘amila ṣāliḥā(n), fa'ulā'ika lahum jazā'uḍ-ḍi‘fi bimā
‘amilū wa hum fil-gurufāti āminūn(a).
Bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada
Kami sedekat-dekatnya, melainkan orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka
itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang mereka
kerjakan. Mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).
38.
وَالَّذِيْنَ يَسْعَوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيْنَ اُولٰۤىِٕكَ
فِى الْعَذَابِ مُحْضَرُوْنَ
Wal-lażīna yas‘auna fī āyātinā mu‘ājizīna ulā'ika fil-‘ażābi
muḥḍarūn(a).
Orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami untuk
melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu dihadirkan di dalam azab
(neraka).
39.
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ
عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗوَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ
ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
Qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā'u min ‘ibādihī wa
yaqdiru lah(ū), wa mā anfaqtum min syai'in fahuwa yukhlifuh(ū), wa huwa
khairur-rāziqīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan
rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan
menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya.
Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.
40.
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ يَقُوْلُ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ
اَهٰٓؤُلَاۤءِ اِيَّاكُمْ كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ
Wa yauma yaḥsyuruhum jamī‘an ṡumma yaqūlu lil-malā'ikati
ahā'ulā'i iyyākum kānū ya‘budūn(a).
(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua,
kemudian berfirman kepada malaikat, “Apakah hanya kepadamu selama ini mereka
menyembah?”
41.
قَالُوْا سُبْحٰنَكَ اَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُوْنِهِمْ ۚبَلْ
كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ الْجِنَّ اَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُّؤْمِنُوْنَ
Qālū subḥānaka anta waliyyunā min dūnihim, bal kānū
ya‘budūnal-jinna akṡaruhum bihim mu'minūn(a).
Malaikat menjawab, “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami,
bukan mereka. Sebenarnya, mereka selalu menyembah jin (dan) kebanyakan mereka
beriman kepadanya.”
42.
فَالْيَوْمَ لَا يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَّفْعًا وَّلَا
ضَرًّا ۗوَنَقُوْلُ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ذُوْقُوْا عَذَابَ النَّارِ الَّتِيْ
كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ
Fal-yauma lā yamliku ba‘ḍukum liba‘ḍin naf‘aw wa ḍarrā(n), wa
naqūlu lil-lażīna ẓalamū żūqū ‘ażāban-nāril-latī kuntum bihā tukażżibūn(a).
Pada hari ini sebagian kamu tidak kuasa (mendatangkan) manfaat
dan (menolak) mudarat kepada sebagian yang lain. Kami katakan kepada
orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu azab neraka yang selalu kamu
dustakan!”
43.
وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالُوْا مَا
هٰذَآ اِلَّا رَجُلٌ يُّرِيْدُ اَنْ يَّصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ
اٰبَاۤؤُكُمْ ۚوَقَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّآ اِفْكٌ مُّفْتَرًىۗ وَقَالَ
الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْۙ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ
مُّبِيْنٌ
Wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātin qālū mā hāżā illā
rajuluy yurīdu ay yaṣuddakum ‘ammā kāna ya‘budu ābā'ukum, wa qālū mā hāżā illā
ifkum muftarā(n), wa qālal-lażīna kafarū lil-ḥaqqi lammā jā'ahum, in hāżā illā
siḥrum mubīn(un).
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang,
mereka berkata, “Orang ini tidak lain hanya ingin menghalang-halangi kamu dari
apa yang biasa disembah oleh nenek moyangmu.” Mereka berkata, “(Al-Qur’an) ini
tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.” Orang-orang yang kufur
berkata tentang kebenaran (Al-Qur’an) ketika ia datang kepada mereka, “Ini
tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”
44.
وَمَآ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَآ
اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍۗ
Wa mā ātaināhum min kutubiy yadrusūnahā wa mā arsalnā ilaihim
qablaka min nażīr(in).
Tidaklah Kami berikan kepada mereka kitab apa pun yang mereka
pelajari dan tidak (pula) Kami utus seorang pemberi peringatan kepada mereka
sebelum engkau (Nabi Muhammad).
45.
وَكَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۙ وَمَا بَلَغُوْا مِعْشَارَ
مَآ اٰتَيْنٰهُمْ فَكَذَّبُوْا رُسُلِيْۗ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ ࣖ
Wa każżabal-lażīna min qablihim, wa mā balagū mi‘syāra mā
ātaināhum fakażżabū rusulī, fakaifa kāna nakīr(i).
Orang-orang sebelum mereka (kafir Makkah) telah mendustakan
(para rasul). Padahal, mereka (kafir Makkah) itu belum sampai (menerima)
sepersepuluh dari apa (nikmat) yang telah Kami anugerahkan kepada orang-orang
terdahulu itu, lalu mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka, (lihatlah)
bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.
46.
۞ قُلْ اِنَّمَآ اَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍۚ اَنْ تَقُوْمُوْا
لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَادٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْاۗ مَا بِصَاحِبِكُمْ مِّنْ
جِنَّةٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيْدٍ
Qul innamā a‘iẓukum biwāḥidah(tin), an taqūmū lillāhi maṡnā wa
furādā ṡumma tatafakkarū, mā biṣāḥibikum min jinnah(tin), in huwa illā nażīrul
lakum baina yadai ‘ażābin syadīd(in).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku hendak menasihatimu dengan satu
hal saja, (yaitu) agar kamu bangkit karena Allah, baik berdua-dua maupun
sendiri-sendiri, kemudian memikirkan (perihal Nabi Muhammad). Kawanmu itu tidak
gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu bahwa di
hadapanmu ada azab yang keras.”
47.
قُلْ مَا سَاَلْتُكُمْ مِّنْ اَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْۗ اِنْ اَجْرِيَ
اِلَّا عَلَى اللّٰهِ ۚوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
Qul mā sa'altukum min ajrin fahuwa lakum, in ajriya illā
‘alallāh(i), wa huwa ‘alā kulli syai'in syahīd(un).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Imbalan yang aku minta kepadamu
(dari dakwah ini) hanya untuk kamu (sendiri). Imbalanku hanyalah dari Allah dan
Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
48.
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَقْذِفُ بِالْحَقِّۚ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ
Qul inna rabbī yaqżifu bil-ḥaqq(i), ‘allāmul-guyūb(i).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melempar
(kebatilan) dengan kebenaran. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib.”
49.
قُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيْدُ
Qul jā'al-ḥaqqu wa mā yubdi'ul-bāṭilu wa mā yu‘īd(u).
Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak
akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.”
50.
قُلْ اِنْ ضَلَلْتُ فَاِنَّمَآ اَضِلُّ عَلٰى نَفْسِيْۚ وَاِنِ
اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوْحِيْٓ اِلَيَّ رَبِّيْۗ اِنَّهٗ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
Qul in ḍalaltu fa'innamā aḍillu ‘alā nafsī, wa inihtadaitu
fabimā yūḥī ilayya rabbī, innahū samī‘un qarīb(un).
Katakanlah, “Jika aku sesat, sesungguhnya aku sesat untuk diriku
sendiri dan jika aku mendapat petunjuk, hal itu disebabkan apa yang diwahyukan
Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat.”
51.
وَلَوْ تَرٰىٓ اِذْ فَزِعُوْا فَلَا فَوْتَ وَاُخِذُوْا مِنْ
مَّكَانٍ قَرِيْبٍۙ
Wa lau tarā iż fazi‘ū falā fauta wa ukhiżū mim makānin
qarīb(in).
(Alangkah mengerikan) seandainya engkau melihat ketika mereka
(orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari Kiamat). Mereka tidak
dapat melepaskan diri dan ditangkap dari tempat yang dekat (untuk diseret ke
neraka).
52.
وَّقَالُوْٓا اٰمَنَّا بِهٖۚ وَاَنّٰى لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ
مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍۚ
Wa qālū āmannā bih(ī), wa annā lahumut-tanāwusyu mim makānim
ba‘īd(in).
(Ketika melihat azab) mereka berkata, “Kami beriman kepadanya
(kebenaran).” Namun, bagaimana mungkin (di akhirat) mereka dapat mencapai
keimanan (dengan mudah) dari tempat yang jauh (dunia fana)?
53.
وَقَدْ كَفَرُوْا بِهٖ مِنْ قَبْلُۚ وَيَقْذِفُوْنَ بِالْغَيْبِ
مِنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍۚ
Wa qad kafarū bihī min qabl(u), wa yaqżifūna bil-gaibi mim
makānim ba‘īd(in).
Sungguh, mereka telah kufur terhadap kebenaran sebelum itu
(ketika di dunia) dan melontarkan (keraguan) tentang yang gaib dari tempat yang
jauh.
54.
وَحِيْلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُوْنَۙ كَمَا فُعِلَ
بِاَشْيَاعِهِمْ مِّنْ قَبْلُۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا فِيْ شَكٍّ مُّرِيْبٍ ࣖ
Wa ḥīla bainahum wa baina mā yasytahūn(a), kamā fu‘ila
bi'asy-yā‘ihim min qabl(u), innahum fī syakkim murīb(in).
Diberilah penghalang antara mereka dan apa yang mereka inginkan
sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang terdahulu yang serupa dengan
mereka. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.